Krsumsel.com, Batam – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI memperkirakan penggagalan penyelundupan 2,6 ton methamphetamine atau sabu cair dari kapal MV Ocean Porter berpotensi menyelamatkan sekitar 14,1 juta jiwa dari penyalahgunaan narkotika.
Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto mengatakan, angka tersebut bukan sekadar perhitungan jumlah barang bukti, tetapi menggambarkan potensi dampak penyelundupan narkotika terhadap masyarakat apabila berhasil diedarkan.
“Ini bukan hanya angka, tetapi penyelamatan jiwa manusia. Kalkulasi klinis kami menganalisa bahwa 2,6 ton sabu cair dapat dijadikan liquid untuk 2,8 juta cartridge vape narkotika,”ujar Suyudi di Dermaga Bea Cukai Batam Kepulauan Riau, Jumat (21/8) sore.
Dengan asumsi satu rokok elektrik digunakan oleh lima orang, barang bukti tersebut diperkirakan berpotensi berdampak terhadap sekitar 14,1 juta jiwa.
Baca juga: Dinkes Riau Siapkan Bantuan 18 Ribu Masker untuk Pelalawan
“Maka pada hari ini negara telah berhasil menyelamatkan lebih dari 14,1 jiwa atau tepatnya 14.130.430 jiwa generasi bangsa Indonesia dari ancaman kerusakan neurologis permanen dan kehancuran masa depannya,”katanya menegaskan.
Suyudi juga memperkirakan nilai ekonomi narkotika tersebut mencapai hampir Rp8,5 triliun. Perhitungan itu didasarkan pada asumsi nilai sekitar Rp3 juta untuk setiap cartridge. Ia mengatakan, pengungkapan tersebut merupakan hasil sinergi BNN RI, Bea Cukai dan Polda Kepri.
Suyudi menjelaskan, pengungkapan bermula dari informasi dan analisis intelijen BNN serta Bea Cukai yang menemukan anomali pada pergerakan kapal MV Rain Maker sejak Desember 2025.
Menurutnya, Selat Malaka dan wilayah Kepri merupakan jalur strategis yang rawan dimanfaatkan jaringan narkotika internasional untuk memasukkan barang terlarang ke Indonesia.
“Pada 16 Agustus 2026, tim kembali melakukan pemantauan melalui sistem marine traffic terhadap kapal berbendera Tanzania tersebut. Kapal diketahui beberapa kali berganti nama dan terakhir menggunakan nama MV Ocean Porter,”kata dia.
Pergerakan kapal yang melintasi Taiwan, Filipina, Sarawak, Laut China Selatan, Thailand hingga Selat Malaka, itu semakin memperkuat kecurigaan petugas.(net)














