“Hasil pengukuran tinggi badan anak di bawah lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan bersama penurunan stunting,”ujar Kadisnkes Muba.
Kadinkes Muba juga memaparkan, dari hasil analisa di lapangan, faktor determinan yang mempengaruhi kejadian stunting di Kabupaten Muba adalah keluarga merokok, tidak ada JKN, tidak ada jamban sehat, Riwayat bumil KEK, ada penyakit penyerta dan kecacingan.
Tindak lanjut faktor determinan yang telah dilakukan yaitu, Sosialisasi PERDA rokok dan bahaya merokok bagi pertumbuhan perkembangan bayi dan anak. Pemberian PMT pada ibu hamil KEK bersumber bahan pangan lokal (integrasi dengan ketahanan pangan KWT/KRPL). Sosialisasi dan distribusi TTD remaja putri (integrasi posyandu remaja dengan BKR dari Dinas KB). Membentuk “TIM GESSIT” GERAKAN STOP STUNTING (Bidan desa, KPM, kader posyandu, TP-PKK desa) yang bertugas mendampingi rumah tangga 1000 HPK baik yang berisiko maupun tidak dalam upaya pencegahan stunting terintegrasi. Memaksimalkan anggaran pusat, daerah dan desa serta swadaya masyarakat dalam penyediaan jamban sehat dan air bersih di rumah tangga 1000 HPK. Serta Gerakan minum obat cacing Bersama setiap bulan februari dan agustus di Posyandu dan PAUD.
Hadir secara virtual sebagai narasumber kegiatan yaitu, Kasi Ketahanan Gizi Dirjen Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI Dahlan Choeron SKM MKM, Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat Dinkes Provinsi Sumsel dr Lisa Marniyati MKM dan Tenaga Ahli Kebijakan Publik LGCB ASR Reg II Ditjen Bina Bangda Kemendagri Adriyanto SH.
Pada kesempatan tersebut Pemkab Muba melalui Dinas Keaehatan menyerahkan sebanyak 214 paket alat Antropometri kepada Posyandu-posyandu dalam Kabupaten Muba. Secara simbolis diserahkan oleh Sekda Muba kepada Kepala Desa Mekar Jaya dan Kades Muara Teladan.(AS)













