Akademisi Nilai Ekspor Terasi Udang Tingkatkan Kesejahteraan Nelayan Asahan

oleh

Krsumsel.com, Medan – Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Medan (FEB Unimed) Fadli Agustriansa mengatakan, ekspor perdana 40 ton terasi udang rebon asal Kabupaten Asahan ke Thailand berpotensi meningkatkan kesejahteraan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) maupun nelayan setempat.

“Adanya ekspor perdana itu bisa menjadi pintu untuk meningkatkan penghasilan ke depannya. Tidak hanya udang rebon, tapi juga produk unggulan lainnya dari Kabupaten Asahan,”ujar Fadli di Medan Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (31/10).

Fadli mengatakan, ekspor tersebut berpeluang sebagai pembuka bagi pengembangan pasar produk unggulan dari komoditas lainnya. Menurutnya, keberlanjutan ekspor akan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang memasok bahan baku udang rebon.

Lebih lanjut ia mengatakan, ke depan dalam pengiriman terasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi, agar pelaku UMKM dan nelayan mampu memenuhi permintaan pasar internasional apabila terjadi peningkatan pesanan.

Baca juga: 273 Senpi Dinas Polres Ogan Ilir Diperiksa Bidpropam Polda 

Untuk itu, pelaku UMKM perlu memperhatikan sejumlah aspek, mulai dari standar produk, kualitas, ketahanan pangan, hingga kemasan yang sesuai dengan preferensi konsumen di negara tujuan ekspor.

Ia berharap, ekspor perdana terasi udang rebon tersebut berkelanjutan, sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pelaku UMKM dan nelayan di Asahan.

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) melepas ekspor terasi produk pelaku UMKM asal Kabupaten Asahan Sumut sebanyak 40 ton ke Thailand pada Selasa (28/10).

“Hari ini, kita melepas ekspor perdana produk UMKM asal Kabupaten Asahan berupa terasi udang rebon 40 ton ke Thailand dengan nilai sekitar Rp230 juta,”kata Zulhas didampingi Wakil Gubernur (Wagub) Sumut Suryadi di depan Kantor Bupati Asahan dalam keterangan tertulis di Medan.

Menko Pangan mengatakan, ekspor terasi tersebut semakin membuka peluang produk olahan lokal dalam menjangkau pasar yang lebih luas, dan meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan.

Kabupaten Asahan memiliki garis pantai sekitar 56 kilometer di Selat Malaka, dan menjadi salah satu daerah dengan produksi perikanan tangkap terbesar di Sumut.

“Hingga September 2026, produksi perikanan tangkap Asahan mencapai 50.658 ton. Potensi itu, turut menopang berbagai usaha pengolahan hasil laut yang memanfaatkan bahan baku dari nelayan setempat,”ujar Zulhas.(net)