Krsumsel.com, Batam – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menginginkan Indonesia mengekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah secara langsung ke negara pembeli akhir tanpa melalui negara perantara, agar memperoleh nilai jual yang lebih tinggi.
Zulkifli menilai, pola perdagangan sejumlah komoditas strategis Indonesia, seperti kelapa sawit, nikel dan timah masih belum memberikan keuntungan optimal karena sebagian ekspornya melewati negara tetangga.
“Kita ingin negara maju, berdaulat. Saya kadang kesal juga. Indonesia produksi CPO terbesar, nikel, timah terbesar, tapi ekspornya lewat negara tetangga,”kata Zulkifli di Batam, Rabu (4/11).
Ia mencontohkan, perdagangan CPO yang menurutnya memiliki selisih harga cukup besar antara harga jual Indonesia kepada negara tetangga dan harga di pasar tujuan berikutnya.
Baca juga: Prabowo Pecat Listyo, Tunjuk Ariyo Windutomo Sebagai Plt KSP
“Harga CPO Rp27.000, kita jual ke tetangga Rp15.000. Berarti kita rugi Rp13.000. Bertahun-tahun. Kita tidak mau lagi masa bodoh terus. Kita ingin ekspor langsung,”ujarnya.
Menurut Zulkifli, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut perdagangan, tetapi juga kemampuan Indonesia mengendalikan rantai distribusi dan memperoleh nilai tambah dari kekayaan alam sendiri.
Ia turut menyinggung sejumlah persoalan lain yang dinilai memperlihatkan posisi Indonesia kerap dirugikan, mulai dari isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean bahan bakar minyak (BBM) di Bali, hingga tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menko Zulkifli juga menyinggung sorotan terhadap pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia mengaitkan berbagai tekanan tersebut dengan tantangan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan nasional.
Menko itu mengingatkan pentingnya memahami Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, khususnya Pasal 33 yang mengamanatkan pengelolaan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Selain perdagangan komoditas, Zulkifli menyoroti ketahanan pangan yang masih menghadapi tantangan ketergantungan impor sejumlah komoditas, seperti beras, gandum, gula, kedelai, dan garam.(net)
















