PALEMBANG, KRsumsel.com – Kolaborasi multi stakeholder antara Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), APP Sinar Mas, Gerakan Cinta Desa (G-Cinde) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan (Sumsel), diharapkan dapat mengawal restorasi Laskap Sembilang, yang sebagian besar merupakan hutan gambut.
Multistakeholder itu pun menargetkan, sebanyak 12.078 hektare hutan gambut di Sembilang Muba, agar bisa dipulihkan pada tahun 2022 mendatang.
Topik tersebut dibahas dalam Webinar – Kolaborasi untuk Restorasi, yang mengusung tema ‘Upaya Pemulihan Hutan Gambut di Lanskap Sembilang’, yang dihadiri para narasumber terkait, Senin (27/12/2021).
Para narasumber yang hadir yakni dari Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), APP Sinar Mas dan G-Cinde, Peneliti Muda – P3SEKPI (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim) dan Pusat Unggulan Komoditi Lestari – PUKL (Pusat Unggulan Komoditi Lestari (PUKL) Muba Sumsel.
Nassat Idrus , Program Director Yayasan Inisiatif IDH mengatakan, Yayasan IDH bertujuan untuk mentransformasikan rantai pasok untuk mencapai lanskap/bentang alam berkelanjutan. Salah satu target Yayasan IDH ada di Sumsel dan Jambi, terutama di Sembilang Muba yang merupakan lanskap yang sangat penting untuk menjamin keberlanjutan di wilayah tersebut.
Dalam kaitan program lanskap berkelanjutan, Yayasan IDH menggunakan pendekatan ecological landscape. Di mana, bentang alam itu memiliki berbagai value yang sangat dinamis. Dan perubahannnya dari tahun ke tahun, tergantung bagaimana tujuan dan pengolahan bersama.
“Yayasan IDH membangun lanskap value dan beberapa kegiatan untuk menjaga agar lanskap berkelanjutan ada 3 komponen, termasuk restorasi, proteksi dan produksi. Hal itu tersebut menjadi komponen utama dalam restorasi / pengolahan lanskap, yang disebut Production, Production and Inclusion (PPI),” ucapnya.













