Sinergi TPID Sumsel: Jinakkan Lonjakan Harga Jelang Iduladha, Inflasi Tetap Terkendali di Bawah Nasional

oleh

KRSumsel.com, Palembang – Langkah taktis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan (Sumsel) kembali membuahkan hasil positif. Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha, sinergi lintas sektor berhasil menjaga stabilitas harga sekaligus mengawal daya beli masyarakat di tengah lonjakan permintaan.

​Berdasarkan data terbaru per Mei 2026, Sumsel mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,61% (month-to-month/mtm), berbalik arah setelah sempat mengalami deflasi sebesar 0,04% (mtm) pada bulan sebelumnya.
​Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Sumsel berada di angka 2,61%. Angka ini masih sangat terjaga di dekat batas tengah target, dan yang terpenting, berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang bertengger di angka 3,08% (yoy).

Hal ini disampaikan Bambang Pramono selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan mengatakan “Keseimbangan Pasar Terjaga: Capaian ini menjadi bukti nyata efektivitas koordinasi TPID di lapangan. Kebijakan yang diambil berhasil menciptakan keseimbangan yang sehat: kesejahteraan petani/produsen tetap terlindungi, sementara isi dompet konsumen tidak tercekik.” ujarnya.

Dikatakan, dinamika Harga: Faktor Cuaca dan Libur Panjang. Secara bulanan, kenaikan inflasi di Sumsel utamanya dipicu oleh kelompok hortikultura akibat tingginya permintaan pasar menjelang Iduladha. Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain:
​Cabai Merah: berkontribusi sebesar 0,18%
​Bawang Merah: berkontribusi sebesar 0,10%
​Tomat: berkontribusi sebesar 0,06%
​Cabai Rawit: berkontribusi sebesar 0,04%
​Ketimun: berkontribusi sebesar 0,04%
​Selain faktor melonjaknya konsumsi warga, keterbatasan pasokan di pasar juga dipengaruhi oleh gangguan produksi akibat cuaca yang tidak menentu. Ditambah lagi, kelancaran distribusi logistik sempat sedikit terhambat akibat rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama sepanjang Mei 2026.

Baca juga: Polda Jambi Limpahkan Tersangka Kurir 48 Kg Sabu-sabu ke Kejati

Menurutnya, meski dihadapkan pada tantangan tersebut, intervensi pasar dan sinergi kokoh dari TPID Sumsel terbukti efektif meredam gejolak harga agar tidak melambung liar. Ke depan, tekanan inflasi pada Juni 2026 diprakirakan akan cenderung melandai, antara lain dipengaruhi oleh stabilisasi harga sejumlah komoditas hortikultura setelah mengalami lonjakan sebelumnya, serta pasokan pangan yang relatif memadai menjelang pertengahan bulan.

Lebih lanjut dikatakannya, meskipun demikian, peningkatan mobilitas masyarakat pada periode libur sekolah, ditambah dengan pencairan gaji ke-13 ASN yang berpotensi mendorong konsumsi rumah tangga serta peningkatan tarif angkutan udara yang masih berlangsung dapat berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.” tambahnya. Dalam menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir Mei 2026, telah dilaksanakan lebih dari 342 kegiatan operasi pasar murah/GPM/SPHP di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.

“Upaya stabilisasi juga diperkuat melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut untuk menjaga kelancaran distribusi pangan. Hingga Mei 2026, BI Sumsel telah memberikan fasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk komoditas pangan utama dengan total berat komoditas yang diangkut mencapai kurang lebih 47,92 ton guna memastikan ketersediaan komoditas pangan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, Kerjasama Antar Daerah (KAD) terus dioptimalkan guna memperkuat pasokan komoditas strategis, termasuk bawang merah.” tambahnya.

Penguatan koordinasi juga dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP–TPID secara rutin dan berbagai komunikasi kebijakan dalam rangka pengendalian inflasi seperti iklan layanan masyarakat bijak belanja dan publikasi jadwal OPM di berbagai kanal media. Sinergi dan koordinasi dengan TPID antar wilayah juga terus dilakukan, antara lain TPID Sumsel menerima kunjungan TPID Maluku dalam rangka studi tiru untuk mempelajari inovasi pengendalian inflasi berdasarkan karakteristik masing-masing daerah.

Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan daerah juga didorong melalui berbagai program inovatif seperti Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), yang pada tahun ini diperluas melalui kolaborasi dengan pesantren dan koperasi sebagai bagian dari ekosistem produksi dan distribusi pangan.

“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini juga sejalan dengan dukungan terhadap program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).”.pungkasnya. (edi)