Batam, krsumsel.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Batam Kepulauan Riau (Kepri) menyebut, sebanyak 20 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah berhasil menembus pasar ekspor khususnya ke Johor Bahru Malaysia.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam Salim mengatakan, capaian ekspor tersebut menjadi indikator peningkatan daya saing UMKM lokal.
“Yang sudah ekspor dan kami data ke Johor Bahru itu ada 20 UMKM, seperti produk kue Melayu koleh-koleh, keripik kampung, Jqueen soes cokelat, kerajinan tas, dan oleh-oleh lainnya,”ujarnya di Batam, Jumat (10/4).
Ia menyampaikan hal tersebut saat pembukaan bazar UMKM dalam rangka Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) 2026 yang diikuti 150 pelaku usaha mikro.
“Kami buka bazar UMKM yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), Dharma Wanita, serta 12 kecamatan di Batam. Seluruh stan dilombakan untuk menjadi stan terbaik dengan penjualan dan kunjungan tertinggi,”katanya.
Selain bazar kata Salim, kegiatan juga diisi dengan pelayanan publik seperti pengurusan perizinan usaha mikro.
Baca juga: Bea Cukai-DJP Segel Empat Kapal Berbendera Asing di Pantai Marina
Salah satu pelaku UMKM Iluh mengaku telah mengembangkan produk berbasis ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan daur ulang menjadi produk bernilai tinggi.
“Kami membuat tas rajutan. Awalnya dari rajutan biasa, sekarang kami kembangkan menjadi sustainable dengan memanfaatkan bahan daur ulang yakni tutup kaleng,”ujarnya.
Ia juga menyebutkan telah mengikuti program akselerasi ekspor dari Kementerian Ekonomi Kreatif dan berhasil menjangkau pasar wisatawan asing, terutama dari Singapura dan Malaysia.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, penguatan sektor UMKM menjadi salah satu fokus utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Bagaimana kita memberdayakan pelaku UMKM agar bisa menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan, itu yang terus kita dorong,”ujarnya.
Menurutnya, pengembangan UMKM tidak hanya sebatas kegiatan seremonial, tetapi harus disertai intervensi nyata.
“Harus ada intervensi dinas, dari manajemen usaha, permodalan, pemasaran, hingga peningkatan kualitas produk. Pelaku UMKM dapat memanfaatkan fasilitas seperti Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) untuk memperbaiki desain kemasan agar lebih menarik,”katanya.
Selain itu, ia menyoroti aspek legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Serifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga sertifikasi halal dapat dipenuhi melalui pelayanan perizinan terpadu.(net)
















