KRSumsel.com, Palembang – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan inflasi sebesar 0,06% (mtm) pada Agustus 2026. Angka ini naik terbatas dari deflasi bulan sebelumnya (0,24% mtm). Secara tahunan, inflasi Sumsel berada di level 2,60% (yoy), sejajar dengan tren nasional yang naik ke 3,19% (yoy).
Capaian ini menjadi bukti efektivitas sinergi daerah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi kesejahteraan produsen.
Hal ini disampaikan Bambang Pramono selaku Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan.
“Faktor Penggerak Inflasi Agustus 2026. Daging Ayam Ras (0,33%): Lonjakan permintaan berbanding terbalik dengan produktivitas ternak yang menurun akibat cuaca panas. Emas Perhiasan (0,07%): Terdampak langsung oleh tren kenaikan harga emas global. Beras (0,02%): Dipicu oleh penurunan pasokan dari petani dan naiknya biaya kemasan di tengah tingginya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Komoditas Lain: Kacang panjang (0,02%) dan jagung manis (0,01%) turut memberikan andil kecil.” ujarnya.
Baca juga: Polda Kepri Musnahkan Barang Bukti Hasil Pengungkapan 26 Perkara
Dikatakannya, Proyeksi Tekanan September 2026. Ancaman El Nino: Potensi kemarau lebih kering di bawah normal yang berisiko mengganggu pasokan hortikultura. Normalisasi Sekolah: Aktivitas belajar-mengajar yang kembali penuh diprakirakan mendongkrak permintaan daging dan telur ayam ras. Tren Ketidakpastian Global: Harga emas dunia masih berpotensi memberi tekanan inflasi lanjutan. Langkah Konkret TPID Sumsel (Strategi 4K). Keterjangkauan Harga & Ketersediaan Pasokan. 385+ Kegiatan Pasar Murah: Gelaran Operasi Pasar Murah (OPM), Gerakan Pangan Murah (GPM), dan SPHP di seluruh wilayah Sumsel.
Menurutnya, Sidak Pasar Berkala: Memastikan kepatuhan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) dan keamanan stok. Kelancaran Distribusi Subsidi Ongkos Angkut: BI Sumsel memfasilitasi 77 kali subsidi distribusi (~47,92 ton pangan utama) untuk mendukung OPM. Pasokan Antardaerah (B2B): Mendatangkan 22,67 ton bawang merah dari Sumatera Barat dan 3,68 ton cabai dari Kab. Magelang.
Kerja Sama Antardaerah (KAD) & Komunikasi Efektif. Perluasan MoU: Kesepakatan G2G dengan Pemda Jawa Tengah (8 Kesepakatan Bersama & 21 PKS) serta 4 PKS B2B. Studi Tiru Multi-Wilayah: TPID Sumsel dan Sulawesi Selatan berguru ke TPID Jawa Tengah guna mereplikasi inovasi pengendalian inflasi. Edukasi Publik: Kampanye Bijak Belanja dan transparansi jadwal OPM di berbagai media. Penguatan Ketahanan Pangan Berkelanjutan Melalui transformasi Rantai Pasok Pangan GSMP (Gerakan Sumsel Mandiri Pangan), Sumsel mengintegrasikan pesantren dan koperasi ke dalam ekosistem produksi serta distribusi pangan.
“Program ini didukung penuh lewat business matching bersama offtaker dan pembiayaan perbankan. Sinergi berkelanjutan antara Bank Indonesia dan Pemda Sumsel ini terus diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung Program Strategis Nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).” pungkasnya. (edi)
















