Krsumsel.com, Tanjungpinang – Kepala Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Warsita menyebut, penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh atau PJJ dinilai cocok diterapkan di daerah itu sesuai karakteristik wilayah Kepulauan.
“Kepri sebagian wilayah berada di pulau-pulau kecil, pesisir, dan kawasan terluar, membutuhkan model pembelajaran lebih fleksibel tanpa mengurangi mutu layanan pendidikan,”kata Warsita di Tanjungpinang, Minggu (9/8).
Warsita mengatakan, BPMP Kepri telah mempelajari sistem PJJ di SMAN 1 Kepanjen, Jawa Timur, yang merupakan salah satu dari tujuh sekolah rintisan SMA Terbuka Jarak Jauh di Indonesia sejak tahun 2014.
Jawa Timur secara umum juga menjadi salah satu daerah yang membuka dan mengembangkan model PJJ bersama provinsi lain, antara lain Sumatera Barat dan Maluku Utara.
Baca juga: Longsor di Nagano Jepang Berdampak 400 Orang Terisolasi
Menurutnya, model PJJ dirancang guna memperluas akses pendidikan menengah bagi anak-anak yang menghadapi kendala jarak, keterbatasan waktu karena bekerja, maupun hambatan ekonomi.
“Praktik SMA Terbuka Kepanjen relevan untuk dipelajari karena Kepri memiliki tantangan layanan pendidikan yang khas, yaitu terdiri dari gugusan pulau-pulau,”ujar dia.
Meski berbasis daring kata dia, model PJJ tetap memadukan sesi tatap muka terbatas melalui tutorial berkala di tes kompetensi bidang (TKB). Dalam sesi tersebut, guru pendamping atau tutor membantu pendalaman materi, memfasilitasi diskusi, serta melakukan evaluasi pembelajaran.
Dengan pola ini, siswa tetap mendapatkan interaksi langsung sekaligus fleksibilitas belajar. Warsita turut menyampaikan model SMA Terbuka Kepanjen memberi pelajaran penting bagi daerah kepulauan yang menghadapi tantangan jarak, akses transportasi, dan keterbatasan layanan pendidikan menengah di wilayah tertentu.(net)
















