Krsumsel.com, Bandarlampung – Tim Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) membawa inovasi hijau pengelolaan limbah organik berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) ke tingkat nasional, melalui ajang Seminar Berdampak 2026 dengan menembus posisi 60 besar terbaik dari 263 tim se-Indonesia
“Atas capaian itu kami diundang langsung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mempresentasikan inovasi tersebut,”kata Sekretaris Tim Pemberdayaan Masyarakat BEM Unila Tri Rizki Handayani dalam keterangan di Bandarlampung, Rabu (8/7).
Ia menjelaskan, inovasi BEM Unila bertajuk “Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa”. Program ini sukses diimplementasikan di Desa Pasar Krui Kecamatan Pesisir Tengah Kabupaten Pesisir Barat.
“Kami membawa solusi konkret atas persoalan dua ton limbah organik harian di Desa Pasar Krui yang selama ini belum terkelola dengan optimal,”katanya.
Tri menjelaskan, inti dari inovasi hijau ini terletak pada pemanfaatan teknologi Soluble Liquid (SL) yang berbasis larutan biang homogen dari 33 jenis tanaman Zingiberaceae (temu-temuan), minyak nabati, dan minyak hewani ini dicampur dengan air lindi.
“Formula ini mampu mendekomposisi limbah organik secara instan dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau, sekaligus bertindak sebagai bioaktivator hayati yang kaya mikroorganisme pengurai,”ucapnya.
Baca juga: KPK Dalami Dugaan Pengaturan Lelang di Biro LPPBMN Kemenhub
Dari proses hilirisasi riset ini, tim mahasiswa Unila melahirkan dua merek produk unggulan yakni Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung) yaitu pupuk organik cair yang memiliki enam varian spesifik, mulai dari pembenah tanah, stimulan pertumbuhan dan pembuahan, pemberantas hama, hingga varian antivibrio untuk kesehatan budi daya perikanan.
“Kemudian Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung) yakni pakan dan suplemen unggas bernutrisi lengkap yang terbagi menjadi dua varian berdasarkan usia ternak (Protim 01 untuk usia 0–20 hari dan Protim 02 untuk usia hingga panen),”kata Tri Rizki.
Dalam implementasinya di lapangan lanjutnya, Tim PM BEM Unila melakukan transfer teknologi skala industri rumah tangga kepada 20 pemuda karang taruna dan delapan anggota kelompok nelayan lokal.
“Bahkan guna menjamin keberlanjutan program, kami juga menghibahkan aset produksi tepat guna berupa mesin pencacah sampah organik, alat pres ulir, dan mesin penggiling limbah ikan,”kata Tri Rizki Handayani.
Ia menegaskan, pendampingan intensif ini menargetkan pemuda karang taruna mampu mengolah hingga 80 persen sampah organik pasar setiap bulan melalui manajemen ekonomi sirkular. Sementara itu kelompok nelayan dilatih untuk mengolah 70 persen limbah ikan menjadi pakan bernutrisi tinggi.
“Program ini terbukti memberikan dampak berganda (multiplier effect) secara ekologis dan ekonomi yang mendukung pencapaian target SDGs—khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim),”katanya.(net)

















