Krsumsel.com, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI bersama mitra konservasi telah melakukan pelepasliaran lima Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang telah berhasil direhabilitasi di kawasan Taman Nasional (TN) Betung Kerihun Kalimantan Barat.
Dalam keterangan dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat (3/7), Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) Murlan Dameria menyampaikan keberhasilan pelepasliaran tahap ke-18 ini merupakan buah dari konsistensi dan dedikasi panjang dalam proses rehabilitasi satwa.
“Kembalinya lima individu orangutan ini ke habitat alami mereka di TN Betung Kerihun bukan sekadar akhir dari masa rehabilitasi, melainkan sebuah awal baru bagi penguatan populasi Orangutan Kalimantan di alam liar,”kata Murlan.
Lima orangutan terdiri dari satu jantan dan empat betina hasil rehabilitasi telah dilepaskan kembali ke habitat alaminya di TN Betung Kerihun oleh BKSDA Kalbar bersama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS/SOC) pada 30 Juni 2026.
Baca juga: KSAU Resmikan RSAU Baru di Pancoran Jakarta Selatan
Adapun lima individu orangutan tersebut adalah Benazir (14 tahun), Jamilah (25 tahun) beserta anaknya Ulin (1 tahun), serta Sinta (13 tahun) beserta anaknya Sabine (2 tahun).
Mereka dinyatakan siap secara fisik maupun perilaku setelah melewati proses rehabilitasi intensif di Sekolah Hutan Jerora serta pemeriksaan medis dan karantina pra-pelepasliaran selama satu bulan.
Usai pelepasliaran, tim pengawasan akan melakukan pemantauan intensif selama tiga bulan untuk memastikan lima individu Orangutan Kalimantan itu mampu beradaptasi dan mencari makan alami, hidup mandiri, dan bertahan di alam tanpa ketergantungan dengan manusia.
Kepala BBTNBKDS Titik Wurdiningsih menyatakan harapannya dengan pelepasliaran lima individu orangutan dan rencana serupa ke depannya, kelestarian dari keberadaan satwa dilindungi itu akan tetap terjaga sehingga masih bisa terlihat hidup di alam ke depan.
“Camp Mentibat, Resor PTN Nanga Hovat, diharapkan ke depan dapat dikembangkan sebagai pusat riset dan pusat edukasi, khususnya terkait orangutan. Begitu pula dengan keindahan alam menuju lokasi pelepasliaran dapat dikembangkan untuk atraksi wisata alam arung jeram,”kata Titik Wurdingsih.(net)

















