FESyar Sumatera 2026: Menatap Masa Depan Ekonomi Wilayah Lewat Ekosistem Digital

oleh

KRSumsel.com, Palembang – Tabuh genderang ekonomi syariah resmi bertalu di Bumi Sriwijaya. Bank Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan resmi membuka gelaran akbar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2026 di Palembang, Jumat (5/6).

​Mengusung tema besar tentang akselerasi, sinergi, dan transformasi digital, FESyar tahun ini bukan sekadar ajang seremonial. Event ini menjadi panggung strategis untuk memperkuat ekosistem syariah regional, sekaligus menjadi jembatan emas menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

​Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa ekonomi syariah kini menjadi mesin pertumbuhan baru yang tangguh di tengah ketidakpastian global.

Peluangnya pun luar biasa: aset keuangan syariah dunia diproyeksikan meroket hingga USD 9,72 triliun pada tahun 2029, didorong oleh konsumsi produk halal yang terus meningkat.
​Sumatera Selatan: Sang Raksasa Potensi Syariah Indonesia punya modal besar untuk memimpin pasar halal dunia, dan Sumatera Selatan adalah salah satu motor utamanya. Dengan 97,22% penduduknya—atau sekitar 7,72 juta jiwa—memeluk agama Islam, Sumsel memiliki modal sosial dan pasar yang masif.

​”FESyar hadir bukan cuma untuk pameran, tapi sebagai wadah nyata yang mengintegrasikan pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan, hingga regulator dalam satu ekosistem digital yang utuh,” terang Destry optimis.

Baca juga: Kapolres Muratara Pimpin Press Release Pengungkapan Kasus 3C

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sumatera Selatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan FESyar Sumatera 2026. Menurutnya, penyelenggaraan FESyar merupakan bukti nyata sinergi dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah di daerah.

Herman Deru juga menegaskan bahwa berbagai program unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, seperti 100.000 Sultan Muda dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Goes to Pesantren, sejalan dengan upaya membangun generasi muda dan pondok pesantren yang mandiri, produktif, inovatif, dan berdaya saing.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai rangkaian kegiatan dalam FESyar Sumatera 2026 yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 dengan tiga pilar utama, yaitu Sharia Fair, Sharia Education, dan Sharia Economic Forum. Berbagai kegiatan diselenggarakan mulai dari pameran produk halal, business matching, seminar, pelatihan, kompetisi ekonomi syariah, hingga edukasi publik.

Sebanyak 73 brand UMKM dari 13 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di wilayah Sumatera turut berpartisipasi dalam Halal Mart guna memperluas akses pasar produk halal unggulan daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menyampaikan bahwa FESyar 2026 difokuskan pada penguatan ekosistem halal, perluasan akses keuangan syariah, serta peningkatan literasi ekonomi syariah masyarakat.

Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah memerlukan kolaborasi lintas sektor dan dukungan transformasi digital agar semakin adaptif, inklusif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Bambang menambahkan bahwa pengembangan ekonomi syariah tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, khususnya melalui Program 100.000 Sultan Muda.

Oleh karena itu, berbagai rangkaian kegiatan dalam FESyar Sumatera 2026 diharapkan mampu melahirkan lebih banyak wirausahawan muda dan sultan muda yang berdaya saing, inovatif, serta menjunjung tinggi nilai-nilai ekonomi syariah.

Dikatakannya, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah di daerah, Bank Indonesia juga terus mendorong replikasi tiga model bisnis unggulan Sumatera Selatan, yakni PESAT untuk penguatan ekonomi pesantren berbasis pangan, UNGGUL untuk optimalisasi wakaf produktif komoditas unggulan daerah, dan BERKAH untuk akselerasi sertifikasi halal serta pengembangan pariwisata ramah muslim.

“Melalui penyelenggaraan FESyar Sumatera 2026, diharapkan kapasitas UMKM dan pesantren semakin meningkat, akses pembiayaan syariah semakin luas, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan semakin kuat, sehingga ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.” pungkasnya. (edi)