Makassar, Krsumsel.com – Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) mengungkapkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang terjadi pada Kamis pukul 06.48 WITA di Laut Maluku merupakan cerminan kompleksitas Zona Subduksi Ganda atau Double Subduction.
“Berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa (moment tensor) dari USGS dan BMKG, gempa ini diinterpretasikan sebagai sesar oblique-reverse (kombinasi sesar naik dan geser) yang terjadi di dalam lempeng (Intraslab), bukan pada bidang kontak antarlempeng utama,”kata Direktur PSG Ardy Arsyad melalui siaran persnya, Kamis (2/4).
Menurut dia, yang menjadikan kejadian ini sangat signifikan secara ilmiah adalah lokasinya yang berada di kawasan Zona Subduksi Ganda Laut Maluku, di mana dua lempeng samudera saling menghujam dari arah berlawanan (Sangihe dan Halmahera).
Kondisi ini kata dia, menciptakan sistem tegangan yang kompleks, sehingga gempa yang terjadi tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi atau megathrust.
Gempa di kedalaman sekitar 30 kilometer dan geometri bidang sesar yang relatif curam itu tidak berasal dari Sangihe Thrust (megathrust dangkal), melainkan mencerminkan deformasi internal dalam slab akibat interaksi dua sistem subduksi.
“Fenomena ini menunjukkan adanya pembagian tegangan (stress partitioning) dan dinamika deformasi yang kompleks di wilayah Indonesia timur,”katanya mengungkapkan.
Meskipun gempa tersebut bukan gempa megathrust, kata ahli geoteknik dan dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin ini menjelaskan, kejadian ini tetap memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir.
Baca juga: Guru PAI Keluhkan Dugaan Pungli Rp 300 Ribu oleh Staf Kemenag Ogan Ilir
Hal ini menegaskan, potensi tsunami tetap dapat muncul, meskipun dengan tingkat bahaya yang lebih terbatas dibandingkan gempa sesar naik dangkal.
Dari sisi kebencanaan, gempa dengan magnitudo besar seperti ini berpotensi menghasilkan guncangan kuat, terutama pada daerah dengan kondisi tanah lunak yang dapat mengalami amplifikasi gelombang seismik.
Selain itu, wilayah dengan sedimen jenuh air tetap memiliki potensi terhadap likuefaksi yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, PSGS menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada terhadap gempa susulan serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait
“Kami juga mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak. Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap potensi tsunami lokal, dan memperkuat mitigasi berbasis peta risiko dan kondisi geologi setempat,”katanya.
Ia memastikan, PSGS akan terus melakukan analisis lanjutan terhadap kejadian ini, termasuk kaitannya dengan dinamika tektonik regional dan implikasinya terhadap risiko kebencanaan di Sulawesi dan sekitarnya.(net)

















