Inflasi Sumsel Maret 2026 Melandai, Lebih Rendah dari Nasional

oleh

KRSumsel.com, Palembang – Kabar baik dari ekonomi Sumatera Selatan! Di tengah tingginya aktivitas masyarakat meyambut Idulfitri, inflasi Sumsel justru menunjukkan tren melandai.

Angka inflasi tahunan kita kini berada di level 3,09%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 3,48%.

Bambang Pramono Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan.

“Keberhasilan ini merupakan buah dari langkah strategis pemerintah dalam menyediakan subsidi angkutan umum dan jalan tol. Meski harga daging ayam dan tarif travel sempat mengalami kenaikan tipis karena tingginya permintaan mudik, secara keseluruhan kondisi harga di pasar tetap stabil dan terkendali.” ujarnya. Kamis (02/04/26).

Dikatakannya, Pasca-Lebaran, Sumatera Selatan fokus menjaga stabilitas ekonomi dengan mencermati beberapa tantangan baru. Meski lonjakan permintaan mulai melandai, normalisasi tarif jasa dan distribusi barang yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan dalam menekan angka inflasi. Selain faktor pasar, cuaca di bulan April yang memasuki masa pancaroba turut menjadi perhatian serius. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan kelancaran produksi dan distribusi pangan, khususnya untuk komoditas sensitif seperti aneka cabai, bawang, dan daging ayam.

Baca juga: Guru PAI Keluhkan Dugaan Pungli Rp 300 Ribu oleh Staf Kemenag Ogan Ilir

Lebih lanjut dikatakannya, di sisi lain, tren harga emas dunia yang masih tinggi akibat ketidakpastian global diprediksi tetap akan memengaruhi pergerakan inflasi di daerah.

Dalam rangka menjaga stabilitas harga, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Hingga akhir Maret 2026, telah dilaksanakan 145 kegiatan operasi pasar murah/GPM/SPHP di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta 32 kali inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan harga sesuai HET dan ketersediaan stok mencukupi.

Upaya stabilisasi juga diperkuat melalui pemberian subsidi harga dan subsidi ongkos angkut dan telah memberikan fasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk komoditas pangan utama dengan total berat komoditas yang diangkut mencapai kurang lebih 47,92 ton guna memastikan ketersediaan komoditas pangan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.

“Penguatan koordinasi juga dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP–TPID secara rutin dan berbagai komunikasi kebijakan dalam rangka pengendalian inflasi seperti iklan layanan masyarakat bijak belanja dan publikasi jadwal OPM di berbagai kanal media. Di tingkat daerah, komitmen tersebut juga diperkuat melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang pada tahun ini mengusung tema Goes to Pesantren serta dirangkaikan dengan business matching KDKMP dan Koperasi Pesantren dengan SPPG sebagai offtaker.” tambahnya.

“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah dalam TPID, berkomitmen terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan, termasuk dalam mendukung pelaksanaan program Asta Cita pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).” pungkasnya. (edi)