TPID Sumsel Komit Jaga Stabilitas Harga Hadapi Ramadan & Idulfitri

oleh

KRSumsel.com, Palembang – Inflasi bulanan Sumatera Selatan pada Februari 2026 meningkat ke angka 0,58% (mtm). Secara tahunan, angka ini menyentuh 4,36% (yoy), sejalan dengan tren kenaikan inflasi nasional (4,76% yoy).

​Selain pengaruh normalisasi tarif listrik, inflasi bulan ini sangat dipengaruhi oleh faktor musiman dan global. Emas menjadi penyumbang tertinggi (0,25%) karena masyarakat beralih ke investasi aman. Sementara itu, kelompok pangan seperti cabai, daging ayam, dan telur mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan di momen Imlek dan jelang Ramadan, yang diperparah dengan kendala pasokan akibat faktor cuaca.

Hal ini disampaikan Bambang Pramono selaku Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan.

“Ke depan, tekanan Inflasi diprakirakan masih berlanjut seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Risiko kenaikan harga pangan, khususnya hortikultura, tetap perlu diantisipasi mengingat curah hujan diprediksi berada pada level menengah – tinggi hingga Maret 2026. Selain itu, harga emas perhiasan diperkirakan masih berada pada level tinggi sehingga berpotensi mendorong kenaikan inflasi inti. Namun demikian, tekanan inflasi diprakirakan tertahan oleh puncak panen raya padi pada Februari–Maret 2026 yang akan memperkuat pasokan pangan.” ujarnya. Kamis (5/3/26).

Dikatakannya, dalam rangka menjaga stabilitas harga, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Baca juga:Sempat Diam, Timnas Putri Iran Kini Nyanyi Lagu Kebangsaan dan Hormat

Hingga akhir Februari 2026, telah dilaksanakan 47 kegiatan operasi pasar murah/GPM/SPHP di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta 16 kali inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan harga sesuai HET dan ketersediaan stok mencukupi.

Menurutnya, menjelang Idulfitri, BI Sumsel bersama TPID Kota Palembang juga melakukan sidak di Pasar Lemabang dan Lotte Grosir Palembang untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan harga tetap stabil. Upaya stabilisasi turut diperkuat melalui pemberian subsidi harga dan subsidi ongkos angkut, termasuk pelaksanaan GPM di Desa Gasing, Kabupaten Banyuasin, dengan dukungan subsidi ongkos angkut untuk 9 komoditas utama dengan total berat sekitar ±4 ton.

Lebih lanjut dikatakannya, penguatan koordinasi dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP–TPID Wilayah Sumatera, High Level Meeting, serta peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia dan kementerian terkait. Di tingkat daerah, komitmen tersebut juga diperkuat melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang pada tahun ini mengusung tema Goes to Pesantren serta dirangkaikan dengan business matching KDKMP dan Koperasi Pesantren dengan SPPG sebagai offtaker.

“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah dalam TPID, berkomitmen terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan, termasuk dalam mendukung pelaksanaan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG)” pungkasnya. (edi)