Kemenkop dan UKM Siap Jadi Motor Pengembangan Pasar Produk Bambu

oleh
Screenshot_2021-10-10-10-54-08-39_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

Namun, ia mengakui belum memiliki teknologi tepat guna dan harga juga belum ekonomis. Jika ada teknologi tepat guna sudah berjalan, akunya, akan lebih efektif.

Agus menambahkan, sebagian besar dari 100 orang anggota asosiasi sudah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Bahkan, dinyatakan produk-produk yang dihasilkan juga sudah ekspor ke negara-negara di Timur Tengah.

“Bambu sudah memiliki pasarnya, khususnya di Timur Tengah. Harga ekspor maksimal ada di angka 2 dollar AS, kapan perajin bisa sejahtera ketika hanya menerima 2 dollar saja,” sebutnya.

Adapun jenis produk yang diekspor mulai dari kaligrafi, gantungan kunci, hingga bahan dasar untuk perabotan rumah.

Asosiasi juga disebut memiliki 13 turunan produk bambu, antara lain kuliner seperti rebung yang diolah menjadi sayur, kripik, hingga tepung.

Kemudian, peralatan hotel seperti sendok garpu hingga sikat gigi yang sudah diminta hotel sebanyak 500 pcs per bulan dengan harga Rp1000.

Oleh karena itu, Agus mengungkapkan bahwa pihaknya membutuhkan teknologi tepat guna agar dapat menekan biaya produksi lebih efektif dan efisien.(Anjas)