“Rt di Sulsel sudah 16 hari di bawah 1. Artinya, satu orang penderita tidak lagi menulari satu orang, jika ini terus bertahan maka jumlah kasus akan terus menurun,” sebut tim gugus tugas COVID-19, Sulsel, Husni Thamrin, di Makassar, Jumat.
Ia mengemukakan kendati pada Kamis, 17 Agustus 2020 masih terjadi penambahan 42 kasus baru hasil dari pemeriksaan 731 spesimen dengan metode PCR di delapan laboratorium, namun ini tentu sudah menunjukkan angka penurunan penularan.
Sedangkan data kasus terbaru yang dilansir Kementerian Kesehatan pada Jumat, 28 Agustus 2020, tercatat di Sulsel masih menujukkan penambahan 76 kasus baru. Jumlah total terkonfirmasi saat ini secara kumulatif mencapai 11.754 ribu orang.
Selanjutnya, pasien sembuh juga tercatat mengalami penambahan sebanyak 106 pasien, dengan jumlah akumulatif sampai saat ini mencapai 9000 pasien. Pasien meninggal dunia bertambah dua orang, sehingga totalnya mencapai 358 orang.
Husni menjelaskan, ada delapan labolatorium yang melakukan pemeriksaan spesimen suspek COVID-19, guna memastikan apakah hasilnya positif atau negatif. Delapan labolatorium tersebut masing-masing, BBLK Makassar, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RS Unhas, BTKL, BBVet Maros, RS Bayangkara, RS. Palamonia dan Lakesda Soppeng.
Soal klaim penurunan jumlah penularan apakah berpengaruh dari berkurangnya hasil dari spesimen yang diperiksa di Labolatorium, kata dia, spesimen yang diperiksa tentu terus bertambah.
“Dari delapan labolatorium di Sulsel ini hitungannya per hari bisa sampai 3.000 spesimen diperiksa,” sebut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sulsel ini.
Sebelumnya, Humas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar, Wachyudi Muchsin malah mempertanyakan apakah benar di Sulsel jumlah kasus menurun seiring dengan berkurangnya spesimen yang diperiksa. Sebab, data IDI sejak 20 Agustus, tidak ada lagi spesimen atau sampel tes usap yang diperiksa pada sejumlah laboratorium di Sulsel.
Ia menduga, klaim penurunan penularan COVID-19 di Sulsel tersebut tidak transparan sebab, data penurunan itu tidak disertai data lengkap berapa banyak hasil dari pemeriksaan tes usap atau swab.
“Pemeriksaan swab yang menurun padahal PCR kita sudah banyak, makanya jumlah positif menurun. Kalau tes swab massif dan hasil positif menurun, itu baru kita bisa happy (senang), tapi jangan kebahagian semu seperti ini. Harusnya transparan,” beber dia.
Wachyudi menyarankan pemerintah terus melakukan tes usap massal agar penyebaran COVID-19 di Sulsel khususnya di Makassar bisa diketahui secara benar. Selain tetap dilaksanakan 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment.
Tidak hanya Pemprov mengklaim angka penurunan COVID-19, Gugus Tugas Kabupaten Gowa juga ikut mengklaim penularan sudah mulai melandai. Hal itu terlihat pada distribusi kejadian covid dan angka Rt yang dirilis Dinkes Sulsel per tanggal 26 Agustus yakni 0,79 atau dibawah 1 persen.
Dari data terbaru ini, diketahui Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Luwu Timur, Sinjai dan Sidrap masih termasuk zona merah penularan COVID-19 di Sulsel.
Ketua Pakar Epidemiologi Indonesia (PAEI) Sulsel sekaligus Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Prof Dr Ridwan Amiruddin mengatakan, meskipun Kabupaten Gowa masih zona merah, tapi jika dilakukan perbandingan angka Rt pada 24 kabupaten/kota di Sulsel, Gowa sudah berada dibawa angka garis merah atau penularan terkendali.
” Indikator untuk menentukan zona merah itu ada tiga yaitu indikator epidemiologi yang dilihat dari Rt, indikator surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan. Jadi masing-masing indikator itu ada itemnya dan diberi bobot. Semakin beresiko semakin rendah bobotnya. Termasuk Rt dihitung semua,” katanya menjelaskan. (Anjas)













