Indralaya, KRsumsel.com – Dalam Memperkuat sinergitas dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Polres Ogan Ilir bersama Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir duduk bersama.
Bersama seluruh stakeholder terkait, gelaran Rapat Koordinasi (Rakor) membahas bencana asap serta langkah penanggulangan Karhutla, berlangsung di Ruang Rapat Utama KPT Tanjung Senai.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Ogan Ilir, Panca Wijaya Akbar, Kapolres Ogan Ilir, AKBP Bagus Suryo Wibowo, unsur Forkopimda, perwakilan TNI, BMKG, perusahaan, serta para camat dan kepala desa se-Kabupaten Ogan Ilir.
Dalam sambutannya, Bupati Ogan Ilir menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi bencana asap akibat Karhutla, yang berpotensi menimbulkan dampak luas, baik terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, maupun perekonomian daerah.
‘Rapat koordinasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat penanggulangan karhutla, khususnya dampak asap yang ditimbulkan. Kita semua harus berperan aktif dalam pencegahan dan penanganannya agar tidak meluas,” ujarnya.
Baca juga: Awak Kapal Nelayan Mati Mesin di Anambas Dievakuasi
Sementara itu, Kapolres Ogan Ilir, AKBP Bagus Suryo Wibowo menekankan, bahwa penanganan bencana asap akibat karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kerja sama yang solid dari seluruh pihak, termasuk masyarakat dan perusahaan.
“Kita harus mengedepankan langkah preventif melalui sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Selain itu, penanggulangan di lapangan harus dilakukan secara cepat dan terpadu agar api tidak meluas dan asap dapat diminimalisir,” tegas Kapolres.
Ia juga menyoroti bahwa bencana asap akibat karhutla dapat mengganggu berbagai sektor, mulai dari kesehatan akibat gangguan pernapasan, terganggunya aktivitas transportasi karena jarak pandang terbatas, hingga potensi kerugian ekonomi seperti gagal panen dan distribusi bahan pokok.
Dalam rapat tersebut, BMKG menyampaikan bahwa wilayah Sumatera Selatan diprediksi akan memasuki musim kemarau mulai Mei hingga Juni 2026, dengan puncak kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus. Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla yang berdampak pada munculnya bencana asap.(rul)













