Pada masa inilah dikenal tokoh-tokoh dari wilayah Wonosobo yang turut serta dalam mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kekuasaan kolonial Belanda.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain yaitu Imam Misbach atau yang kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kartosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Ki Muhammad Ngarpah.
Dari nama-nama tersebut, Ki Muhammad Ngarpah adalah tokoh penting yang memiliki andil besar dalam sejarah berdirinya kabupaten Wonosobo.
Dalam mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, peran Ki Muhammad Ngarpah tidak terbatas di daerah Wonosobo saja, melainkan juga di daerah Purworejo, Magelang,
Klaten dan sebagainya. Ki Muhammad Ngarpah pernah bersama-sama dengan Mulyosentiko memimpin pasukan pendukung Pangeran Diponegoro saat menghadang pasukan Belanda di Legorok, dekat Pisangan Yogyakarta
Dalam pertempuran di Legorok tersebut Ki Muhammad Ngarpah bersama-sama Ki Mulyosentiko beserta pasukannya berhasil menewaskan ratusan tentara Belanda, termasuk empat orang tentara Eropa.
Mereka juga berhasil mengambil emas lantakan senilai 28,00 gulden pada saat itu. Saat itu Belanda mengalami kekalahan besar, sehingga hanya beberapa orang saja yang dapat melarikan diri.
Baca Juga ; Kisah Tiga Lelaki Terjebak Dalam Gua
Dalam pertempuran di Ledok dan sekitarnya, Ki Muhammad Ngarpah mengerahkan 100 orang prajurit yang dipimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang untuk menghadapi serbuan Belanda.
Ki Muhammad Ngarpah juga pernah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen. Dalam pertempuran di daerah Kedu, pemimpin pasukan Belanda bernama Letnan De Bruijn terbunuh.
Selain itu Ki Muhammad Ngarpah dan Mulyosentiko juga terlibat dalam pertempuran di daerah Delanggu. Mereka memimpin pasukan ke daerah Lanjur untuk menghadang pasukan Belanda yang datang dari Klaten.
Menurut catatan sejarah, kemenangan Ki Muhammad Ngarpah serta para pendukungnya saat menghadang pasukan Belanda di Legorok adalah kemenangan pertama pasukan pendukung pangeran Diponegoro.
Maka berdasarkan keberhasilan tersebut, Pangeran Diponegoro memberi gelar nama Setjonegoro kepada Muhammad Ngarpah dan nama Kertonegoro kepada Mulyosentiko. Selanjutnya Setjonegoro diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro.
Eksistensi kekuasaan Setjonegoro di daerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro usai.
Dalam catatan sejarah juga dikatakan bahwa Tumenggung Setjonegoro (Bupati pertama Wonosobo) yang pada awal kekuasaannya berada di Ledok, Selomerto, kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Kota Wonosobo seperti halnya sekarang.
Baca juga: Asal – Usul Nama Kota Kebumen
Adapun mengenai ketentuan berdirinya atau hari jadi Kabupaten Wonosobo, berdasarkan hasil Seminar Hari Jadi Wonosobo pada tanggal 2 April 1994 yang dihadiri oleh Tim Peneliti Hari jadi Wonosobo dari Fakultas Sastra UGM, Muspida, sesepuh dan pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, pimpinan DPRD dan pimpinan komisi serta instansi di Wonosobo, disepakati bahwa momentum Hari Jadi Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825.
Ketentuan mengenai hari jadi Kabupaten Wonosobo ini juga telah ditetapkan menjadi Perda dalam Sidang Pleno DPRD Kabupaten Wonosobo tanggal 11 Juli 1994. Demikianlah Asal Muasal Nama dan Sejarah Kabupaten Wonosobo, semoga bermanfaat.

















