“Itu beberapa syarat taubat kepada Allah SWT. Kaitannya terhadap dosa kepada orang lain, ditambah lagi syaratnya dengan mengembalikan apa yang sudah diambil. Jadi kalau mengambil sandal, dikembalikan sandalnya. Kalau dia menggunjing atau menyakiti hati orang lain, maka harus meminta maaf,” ujarnya
Taubat disebut da’i muda ini ‘ tidak harus dilakukan di bulan Rajab. Kapan saja setelah melakukan dosa, melakukan maksiat, maka wajib langsung bertaubat. Tidak ada waktu khusus untuk taubat atau kembali kepada Allah SWT. Hanya saja, bulan Rajab termasuk bulan haram, bulan istimewa, dan memiliki keutamaan lebih, apalagi dalam memperbanyak perbuatan baik jelasnya
Alumni UIN Raden Fatah ini juga menyebut agar istiqomah dalam bertaubat, maka harus dipahami jika taubat bisa dilakukan kapan saja dan terus menerus. Setiap hari, sudah sewajarnya seorang umat bertaubat atas dosa atau maksiat yang dilakukan, baik sadar maupun tidak. Khususnya menjelang Subuh atau saat sahur, disunnahkan memperbanyak istighfar.,katanya
Ia lalu menyontohkan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Sebagai makhluk yang tidak memiliki dosa atau maksum, Nabi tetap bertaubat dan kembali kepada Allah. Taubat yang dilakukan Nabi bukan meminta ampun atas dosa atau pelanggaran yang dilakukan, namun untuk ibadah. Taubat adalah ibadah hati yang paling utama dan terletak di setiap hati umat Muslim.bebernya
“Taubat itu isinya amalan hati. Istighfar itu ibadah utama. Jika dilakukan di bulan Rajab lebih bagus, karena Rasulullah SAW menyuruh kita memperbanyak berbuat baik di bulan haram,” ujarnya.
Ustad Dedi menjelaskan “Berkaitan dengan persiapan menjelang bulan Ramadhan, maka bulan Rajab adalah bulan istimewa. Rasulullah dan para Sahabat memperbanyak puasa dan ibadah di bulan ini. Tidak ada bulan yang paling banyak puasa sunnahnya selain Rajab dan Syaban. Rasulullah menanti-nanti ramadhan dengan memperbanyak doa, Allahumma Bariklana fi Rajab wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana.imbuhnya













