Spesifikasinya, kapal ini memiliki berat 11 GT dengan kecepatan hingga 31 knot. Kapal berukuran 12 meter x 2,8 meter × 1,3 meter dan mampu memuat sampai 12 orang.
Nama Balaenoptera diambil dari bahasa Latin yang berarti Paus Biru. Nama tersebut digunakan karena icon dari Taman Nasional Perairan Laut Sawu adalah Paus Biru. Kapal ini pun akan mengawasi beroperasinya wisata Paus Biru di Taman Nasional Perairan Laut Sawu.
Taman Nasional Perairan Laut Sawu memiliki luas 3,35 juta hektare yang meliputi 5 region dan 10 Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Target konservasi utama pada taman nasional ini adalah mamalia laut, seperti penyu, hiu paus, pari manta, terumbu karang, dan lamun.
Sementara itu, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Imam Fauzi, memastikan keberadaan Balaenoptera akan lebih mengoptimalkan pemantauan ekosistem perikanan di wilayah kerjanya.
“Kami berupaya menjaga ekosistem Laut Sawu terus lestari. Dengan ekosistem yang terjaga akan menjaga kesehatan laut di wilayah ini, sesuai dengan visi KKP yang menjalankan prinsip ekonomi biru,” ujarnya.(Anjas)













