Selain itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Dadi Mulyadi menjelaskan, untuk mendukung satuan kerja menjadi WBK, hal yang utama ialah back to basic. Hal ini guna peningkatan layanan yang berdasarkan prinsip dasar Pemasyarakatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
“Dalam setiap pelaksanaan tugas saat ini harus sesuai dengan program back to basic dalam hal pelayanan. Petugas harus memahami tugas dan fungsi dalam pelaksanaan kegiatan. Semua pejabat struktural harus solid menjadi satu kesatuan, agar tidak ada celah untuk orang lain menghancurkan sistem yang telah dijalankan,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Kepala Divisi Administrasi Rifqi Adrian Kriswanto mengingatkan bahwa Lapas Kelas IIA Banyuasin harus terus berbenah guna mencapai penilaian WBK yang optimal. Baik dari segi pelayanan, inovasi, hingga kinerja pegawai.
“Dalam mencapai penilaian WBK yang optimal, satker harus berpedoman pada program dan rencana aksi dalam pembangunan ZI. Jika semuanya berjalan sesuai rencana. Maka predikat WBK akan dapat diraih,” pesannya.
Di akhir kegiatan, Kepala Lapas Banyuasin Ronaldo Devinci Talesa mengungkapkan bahwa pihaknya terus menata sistem yang ada di Lapas Banyuasin untuk masuk ke dalam penilaian WBK/WBBM ini. Setiap pegawai selalu diingatkan nilai – nilai dan semangat PASTI (Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan dan Inovatif) dalam menjalankan tugas.
“Pada tahun ini, kami siap berjuang untuk meraih predikat WBK. Semangat yang tak henti untuk melakukan perubahan selalu digaungkan, untuk mewujudkan Lapas Banyuasin menjadi Satker Pemasyarakatan terbaik yang memberikan pelayanan prima bagi masyarakat, terkhusus kepada warga binaan,” ungkapnya.(Yan)













