Bandarlampung, KRsumsel.com – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung menyatakan daerah tersebut berpotensi menjadi produsen sapi berbobot besar yang dikembangkan oleh peternak rakyat.
“Di Lampung ada banyak peternak yang memelihara sapi berbobot besar,”ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Lili Mawarti di Bandarlampung, Kamis (28/5).
Ia menjelaskan, seluruh sapi bantuan Presiden yang didistribusikan di Provinsi Lampung pada tahun ini merupakan sapi asal Lampung sendiri, bukan didatangkan dari luar daerah. Selain itu, Lampung juga menyuplai sapi berbobot besar ke sejumlah daerah di luar provinsi.
“Semua sapi yang didistribusikan sebagai bantuan Presiden merupakan sapi asal Lampung. Kami juga memasok sapi berbobot jumbo ke luar Lampung,”ujarnya.
Baca juga: Sekda Ogan Ilir Serahkan Bantuan Sapi Presiden Ke Masyarakat
Bahkan di Provinsi Lampung sapi berbobot di atas 800 kilogram memiliki komunitas peternak tersendiri. Demikian pula sapi bakalan dengan bobot di atas 300 kilogram yang juga dikelola oleh kelompok peternak khusus.
Ia menuturkan, pemeliharaan sapi jumbo membutuhkan keahlian khusus, sehingga tidak semua peternak dapat membudidayakannya. Meski demikian, hampir setiap kabupaten di Lampung memiliki peternak sapi berbobot besar.
“Peternak sapi jumbo ini merupakan peternak tertentu, karena tidak semua orang mampu memelihara dan merawat sapi dengan bobot besar. Namun, hampir di setiap kabupaten ada,”katanya.
Ia menyebutkan, sentra peternakan sapi berbobot besar milik peternakan rakyat itu tersebar di Kabupaten Lampung Tengah yang merupakan daerah dengan jumlah sapi berbobot besar cukup banyak, lalu Kabupaten Lampung Selatan, dan Tanggamus.
“Adapun jenis sapi yang banyak dikembangkan di antaranya Limousin, Simmental, Belgian Blue, peranakan Ongole (PO) dan Brahman,”ucap dia.
Ia menambahkan, harga hewan kurban pada 2026 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, harga sapi hidup berada pada kisaran Rp58 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut menjadi momentum positif bagi peternak lokal untuk meningkatkan produksi usaha penggemukan sapi.
“Ini menjadi masa panen bagi peternak sekaligus bentuk apresiasi agar mereka terus meningkatkan budidaya peternakan sapi penggemukan,”tambahnya.(net)















