KRSumsel.com, Palembang – Masjid Jami’Al Ikhlash, Komplek PU Sekip Tengah, Kelurahan Sekip Jaya, Kecamatan Kemuning, Palembang. Peringati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H dihadiri oleh ketua-ketua RT/RW sekitar, juga Lurah Sekip Jaya Usman Efendi dan Tokoh Masyarakat sekitar Masjid, para Jemaah Masjid Jami’Al Ikhlash, juga para undangan lainnya.
Peringatan ini diawali dan dimeriahkan dengan syair shalawat Hadroh Al Musthofa, pembacaan kitab suci Al-Qur’an oleh Kgs. Ahmad Humaidi, M.Pd, kemudian laporan Ketua PHBI, Aldi dilanjutkan sambutan Ketua Masjid Soni Setiawan dan ceramah agama oleh Dr. H. Abdul Rahman Romli, S.Ag, M.Pd.I Al-Halfidz.
Dalam ceramahnya Dr. H. Abdul Rahman Romli, S.Ag, M.Pd.I Al-Halfidz dalam mengatakan “Isra Mi’raj merupakan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dalam satu malam dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), lalu naik ke Sidratul Muntaha, langit ketujuh, atas perintah Allah SWT pada tanggal 27 Rajab. Peristiwa ini bertujuan menghibur Nabi Muhammad yang sedang berduka dengan kehilangan istrinya, Siti Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib yang menghasilkan perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.” jelasnya. Minggu malam (25/01/26).
Baca juga:Khephren Thuram Tak Akan Pernah Main untuk Inter Milan
Dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem dikatakannya, menggunakan Buraq dengan ditemani Malaikat Jibril. Kemudian setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat bersama para nabi dan rasul terdahulu. Nabi naik dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha melintasi tujuh lapisan langit.
Langit 1: Bertemu Nabi Adam AS.
Langit 2: Bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS.
Langit 3: Bertemu Nabi Yusuf AS.
Langit 4: Bertemu Nabi Idris AS.
Langit 5: Bertemu Nabi Harun AS.
Langit 6: Bertemu Nabi Musa AS.
Langit 7: Bertemu Nabi Ibrahim AS.
Lebih lanjut dikatakannya, perjalanan Nabi Muhammad SAW tentu saja tidak diterima begitu saja oleh umatnya karena diluar akal dari manusia, sehingga Nabi kehilangan pengikutnya dan terjadi perpecahan tiga umat, kemurtatan.
Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha (tempat tertinggi) dan menerima perintah langsung dari Allah SWT mengenai kewajiban salat lima waktu, yang awalnya diperintahkan 50 waktu sebelum akhirnya diringankan menjadi lima waktu.
“Isra Mi’raj menjadi ujian iman, menegaskan kebesaran Allah SWT, dan menunjukkan kedudukan tinggi Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah dan percakapan antara Nabi Muhammad SAW dengan Allah tersebut selalu dilafaskan disetiap disholat.” tutupnya. (edi)















