Lanjutnya, Ia bersyukur dikaruniai suara yang cukup bagus, yang disadari oleh ayahnya sehingga mengarahkannya untuk tekun mengaji secara maqom ataupun tingkatan lagu, hingga Ia berani mengikuti lomba. Meski sempat kalah pada kompetisi pertamanya, Ia tetap berusaha belajar dengan seorang guru yang merupakan teman dekat ayahnya.
“Alhamdulillah ilmu yg diberikan pak Nazar (guru saya) pada tahun 2019 kemarin dapat mengantarkan saya mewakili kabupaten, bersaing dengan peserta yang notabenya mungkin lulusan Pondok Pesantren, dan akhirnya berhasil membawa piala pertama saya”, ungkapnya.
Kedepan, Ia berharap keterampilannya membaca Al-Quran, dapat mendukung pembinaan narapidana melalui profesinya sebagai penjaga tahanan pada Lapas Kelas IIB Muara Dua.














