Kerja KPK Firli dengan pemberantasan korupsi menemukan dimensi penguatan demokrasi, dan penguatan demokrasi tentu bertujuan menyelamatkan kemanusiaan dan keadilan. Ketika masih begitu banyak rakyat yang bekerja keras mencari nafkah dengan cara halal dan baik dengan susah payah karena pandemi, di sisi lain segelintir manusia menyalahgunakan kekuasaan dengan melanggar hukum, bertindak amoral dengan hidup bergelimang harta hasil korupsi, bermewah-mewahan di tengah kesusahan saudara satu bangsa, menumpuk harta seolah-olah negara ini miliknya sendiri sehingga menginjak injak rasa kemanusiaan dan keadilan.
KPK dipimpin Firli Bahuri hadir berjuang memenangkan kembali rasa kemanusiaan dan keadilan itu kembali.
*Penutup*
Dengan begitu besarnya peran KPK di medan sosial politik Indonesia tidak mengejutkan apabila seorang Ketua KPK dianggap bisa menjadi pemimpin nasional yang memberi rasa aman bagi rakyat. Jika kita melihat ke belakang, ada Ketua KPK Abraham Samad yang pernah berupaya masuk ke medan politik dengan menjadi Calon Wapres pendamping Jokowi pada Pilpres 2014, namun belum berhasil mendapat tempat.
Sosok lain seperti Johan Budi, Candra Hamzah dan juga tokoh-tokoh anti korupsi lainnya yang terus berjuang di luar lembaga pemerintahan gaungnya kurang begitu kuat. Ada sosok eks-komisioner KPK yang tetap garang menyuarakan sikap anti korupsi seperti Busyro Mukodas dan Bambang Widjajanto namun tidak bisa seefektif saat menjabat di KPK.
Dengan kinerja seperti disebut di atas, apakah Firli punya kesempatan yang lebih baik di 2024?
Jawabannya hanya satu, yaitu tergantung dari konsistensi Firli untuk mencegah dan memberantas korupsi. Jika Firli terus konsisten tentu akan meningkat kepercayaan publik. Sebaliknya jika Firli surut dari cita-citanya tentang Indonesia yang bebas korupsi tentu publik akan balik badan.
Sekarang terserah bola ada di tanganmu, Jenderal!.(****)













