Seiiring meningkatnya kebutuhan, para kaum laki-laki merasa bahwa mereka hanya menambah beban orang tua. Membantu bekerja di kebun atau di sawah tidak lagi bisa men-cukupi kebutuhan mereka, apalagi membantu ekonomi keluarga. Lalu, kaum laki-laki akan berpikir untuk mencari pekerjaan baru agar tidak terus-terusan bergantung pada orang tua. awalnya pekerjaan yang dicari biasanya berkisar di daerah tempat tinggal. Tetapi, karena per-masalahan pertambahan penduduk dan lapangan pekerjaan, maka merantau merupakan solusi satu-satunya. Dengan merantau, diyakini bahwa permasalahn ekonomi bisa teratasi.
- Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau, ter-utama pendidikan Agama Islam. Adanya hukum ”adat basandi sara’, sara’ basandi kita-bullah mempertegas bahwa masyarakat Minang harus menguasai pengetahuan dalam Islam. Namun keterbatasan tingkat pendidikan yang ada di daerah Minang, memaksa orang-orang yang ingin menuntut ilmu untuk pergi keluar dari wilayah Minang.
- Malanjutkan Kesuksesan Para Perantau Sebelumnya
Adanya cerita orang-orang terdahulu yang sukses dalam perantauan merupakan moti-vasi tersendiri yang mendorong terjadinya tradisi merantau di dalam masyarakat Minang. Se-but saja misalnya kesuksesan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi imam Masjid Al-Haram. Muncul kebanggan tersendiri pada setiap masyarakat Minang khususnya pemuda untuk meneruskan kesuksesan yang pernah di raih pendahulunya tersebut.
Dari uraian diatas, diketahui bahwa konsep merantau bagi masyarakat Minangkabau berbeda dengan merantau yang dilakukan masyarakat daerah lainnya. Di daerah lain, faktor utama yang meyebabkan seseorang merantau adalah karena permasalahan ekonomi. Pada masyarakat Minang, merantau bukan hanya semata-mata untuk memperoleh kekayaan, atau memperoleh kehidupan yang lebih baik dibidang ekonomi saja, tetapi yang diutamakan masyarakat Minang dalam merantau adalah penemuan jati diri, pengalaman dan nilai-nilai hidup yang tidak didapatkan di daerah asal. Jadi ketika kembali ke tanah kelahiran, si pe-rantau benar-benar telah siap secara mental dan sikap untuk hidup bersama masyarakat.













