Maka pada hari yang ditentukan berangkatlah sang “Pembesar“ diiringi pengawalnya ke Pampangan. Sesampainya disana memang benar kecantikan sibungsu sangat sukar dicari tandingannya Dan timbullah keinginan sang “Pembesar” untuk meminang sibungsu. Oleh karenanya maka sang “Pembesar” bersama pengikutnya untuk sementara menetap dan mendirikan rumah disana. Tanpa terasa dikarenakan lamanya sang “Pembesar” ternak yang semula hanya beberapa ekor sampai menjadi ratusan banyaknya. Ternak tersebut semuanya adalah Kerbau.
Selama diam ditempat itu sering kali terjadi gangguan – gangguan dari orang jahat. Namun sang “Pembesar” dan pengikutnya tidak tinggal diam, mereka mengadakan perlawanan – perlawana. Pada bentrokan terakhir dengan orang – orang yang mengganggunya, yaitu disuatu tempat yang agak menanjung (tanjung) pihak “Pembesar” memperoleh kemenangan, sehingga musuhpun lari meninggalkan tempat itu dan tak pernah datang lagi untuk mengganggu, maka oleh sang “Pembesar” daerah itu dinamakan Tanjung Menang.
Selanjutnya tanpa diketahui asal mulanya, sang “Pembesar” tidak jadi meminang Raden Ayu, dan mereka akan kembali ke Palembang. Semua ternak kerbaunya ikut dibawa serta, namun untuk menangkapnya sangat sulit, Maka oleh sang “Pembesar’ diperintahkanlah pengikutnya untuk menangkap ternak itu dengan Empangan (kandang buruhan) maka dengan mudah semua ternak itu ditangkap selanjutnya dibawa pulang ke Palembang. Mungkin sebagai kenangan nama Tanjung Menang dirubah menjadi Empangan oleh “Pembesar” tersebut. Selanjutnya bertahun – tahun kemudian nama empangan oleh Gouvernement Belanda berubah Menjadi Pampangan, semakin lama dusun Pampangan semakin ramai dan terakhir kita kenal sebagi Ibukota Kecamatan.














