Pertamina EP Limau Field Berdayakan Warga Lubuk Raman, Rumah Kreatif Boek Khaman Jadi Penggerak Ekonomi

oleh

MUARAENIM, KRSUMSEL.COM – Di bumi Muara Enim yang kaya akan energi, sebuah cerita tentang kehidupan tengah ditulis bukan dengan tinta biasa, melainkan dengan warna-warni alam di atas kain batik,di bawah naungan Rumah Kreatif Boek Khaman, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, denyut nadi perekonomian warga berdetak lebih kencang.

Ini bukan sekadar kisah tentang kain dan canting, melainkan sebuah simfoni tentang sinergi, ketekunan, dan tangan-tangan yang merajut masa depan di tengah hamparan ladang karet.

Langkah kaki PT Pertamina EP Field Limau menyentuh tanah Lubuk Raman sejak tahun 2022 membawa lebih dari sekadar komitmen energi nasional.

Di bawah komando Superintendent HSSE Operation Pertamina EP Limau Field

( Suharjono ), perusahaan memegang teguh prinsip bahwa kehadiran industri hulu migas harus berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Pertamina itu di samping mengamankan energi nasional, kita juga mengamankan urusan masyarakat, peduli terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional. Kita ingin bersinergi membangun kemandirian ekonomi,” tutur Suharjono penuh kehangatan di gerai Batik Boek Khaman.pada Kamis (15/10/2026).

Dari Pemetaan Sosial Menuju Asa yang Menyatu,perjalanan ini bermula dari langkah sunyi yang cermat. Tim Pertamina EP Limau Field tidak datang dengan solusi instan, melainkan lewat pemetaan sosial (social mapping) yang merangkul aspirasi warga.

Dari proses dialog dan evaluasi berkelanjutan itulah, lahirlah Rumah Kreatif Batik Boek Khaman,sebuah motor penggerak ekonomi kerakyatan yang kini menjadi kebanggaan desa Lubuk Raman.

Namun, jalan menuju kemandirian tidak selalu mulus. Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, SP., mengenang masa-masa ketika kelompok perajin di desanya masih berjalan sendiri-sendiri dan terpecah dalam kelompok kecil seperti Batik Boek Khaman, Huas Bulu, KWT, hingga Laskar Boek Khaman.

Semuanya berubah ketika payung kolaborasi dibuka lebar. Berkat dukungan pendampingan Pertamina EP Limau Field sejak 2022, kelompok-kelompok yang dulunya terkotak-kotak kini dipersatukan dalam satu ekosistem yang saling menopang dan bergantung satu sama lain.

Roda Produksi yang Ramah Lingkungan

Kehebatan Rumah Kreatif Boek Khaman terletak pada siklus produksinya yang terintegrasi dan ramah lingkungan.

Baca juga: Luka di Lengan dan Leher, Perempuan di Palembang Laporkan Dugaan Penganiayaan

Setiap kelompok memiliki peran strategis yang saling mengunci:

KWT Khiman (14 Orang): Menjadi garda terdepan dalam pengembangan pewarnaan alam untuk produk batik yang ramah lingkungan.

Huas Bulu (12 Orang): Mengolah limbah sisa batik menjadi arang aktif sekaligus memproduksi pupuk organik berkualitas.

Batik Boek Khaman (10 Orang): Fokus utama pada produksi kerajinan batik khas daerah dengan motif sarat makna filosofis.

Laskar Boek Khaman (6 Orang): Mengelola operasional harian, pemasaran, dan penguatan jejaring kolaborasi.

Efek dominonya pun luar biasa. Para ibu rumah tangga dan pemuda Karang Taruna yang sebelumnya hanya mengisi waktu luang dengan menyadap karet atau bahkan menganggur, kini memanfaatkan jam-jam produktif dari pukul 11.00 hingga 17.00 WIB untuk menorehkan malam di atas kain.

Mengubah Canting Menjadi Biaya Kuliah dan Senyuman

Dampak sosial ekonomi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menjelma menjadi cerita-cerita haru tentang impian yang terwujud. Oktasari menuturkan bagaimana hasil dari membatik mampu menopang ekonomi keluarga hingga mengantarkan anak-anak warga menembus gerbang perguruan tinggi.

Sebut saja anak dari Ibu Ira yang kini bisa berkuliah, serta Safira dari Karang Taruna yang sukses merampungkan studinya berkat ketekunan menenun asa di sentra kreatif ini.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina EP Limau Field yang telah membina kami sejak 2022 hingga 2026 ini melalui berbagai pelatihan pemberdayaan perempuan,” ungkap Oktasari dengan mata berkaca-kaca penuh syukur.

Gelombang kolaborasi ini pun rupanya merembet ke sektor lain. Majid, seorang perajin dan pengusaha Kopi Semendo yang baru bergabung selama satu bulan, merasakan langsung getaran positif dari ekosistem ini. Ia berharap langkah kecil usahanya dapat segera bersinergi dengan PT Pertamina EP Limau Field dan Rumah Kreatif Boek Khaman.

“Harapan saya semoga usaha Kopi Semendo saya ini dapat berkolaborasi dengan pihak Pertamina EP, semoga pihak Pertamina EP dapat membantu supaya usaha saya dan UMKM Rumah Kreatif Boek Khaman ini terus berjalan sesuai harapan,” ucap Majid penuh harap.

Di Desa Lubuk Raman, minyak di dalam bumi menyalakan energi bagi negeri, sementara di atas permukaannya, selembar kain batik dan secangkir Kopi Semendo menyalakan nyala harapan, kemandirian, dan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh warga.(Roy)