Pemprov Babel Bangun 25 Jaringan Irigasi Air Tanah Antisipasi Gagal Tanam

oleh

Krsumsel.com, Pangkalpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) akan membangun 25 Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) guna mengantisipasi risiko gagal tanam padi dan tanaman pangan lainnya di daerah itu.

“Kita berharap tahun ini (2026) pembangunan 25 titik JIAT, rehabilitasi tanggul, pintu air dan jaringan irigasi dapat terealisasi dengan baik,”kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Babel Kurniawan di Pangkalpinang, Senin (21/9).

Ia mengatakan, pembangunan 25 titik JIAT dan rehabilitasi tanggul dan pintu air itu akan dibangun di daerah-daerah sentra penghasil beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, seperti Bangka Selatan, Bangka Barat, Bangka, Bangka Tengah, Belitung dan Belitung Timur, guna mengoptimalkan tata kelola air untuk padi sawah di daerah tersebut.

Baca juga: Tim DVI Langsung Identifikasi Temuan Dua Korban Kapal Virgo

“Secara umum, tata kelola air pada sawah di daerah ini masih belum optimal, dengan sejumlah titik kritis yang menjadi tantangan percepatan produksi pangan,”ujar dia.

Ia mengatakan, hasil pemetaan yang dilakukan DPKP Provinsi Kepulauan Babel, terdapat beberapa titik lokasi dengan permasalahan infrastruktur air yang perlu penanganan prioritas, di antaranya dalam menghadapi ancaman intrusi air laut, kerusakan tanggul, pintu air, serta keterbatasan jaringan irigasi, yang menyebabkan lahan sulit diolah dan berisiko gagal tanam akibat air asin atau ketiadaan air tawar.

Selain itu, pembagian air ke lahan pertanian padi sawah ini juga terbatas karena berbatasan dengan wilayah bukan daerah sentra pertanian, sehingga sawah di ujung sering kekeringan dan menghambat proses pengisian bulir padi pada masa generatif.

“Minimnya infrastruktur irigasi dan seringnya kebanjiran menyebabkan kegiatan tanam tidak optimal karena lahan tergenang, sehingga diperlukan pembangunan tanggul dan saluran drainase,”katanya.

Ia menambahkan, tantangan lainnya dalam mengatasi gagal tanam ini yaitu lahan persawahan yang mengalami banjir akibat pendangkalan saluran pembuangan sungai, sehingga lahan sawah tidak dapat ditanam optimal saat musim hujan.

“Dengan adanya rehabilitasi tanggul, pintu air, penyempurnaan jaringan irigasi dan pembangunan JIAT dapat mengatasi tantangan dan masalah dalam percepatan swasembada pangan di daerah ini,”katanya.(net)