Jakarta, KRsumsel.com – Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Timur (Jaktim) menyoroti ancaman penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu yang diduga mengandung logam berat berbahaya.
“Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis,”kata Kepala Sudinkes Jakarta Timur Herwin Meifendy saat ditemui di Kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Rabu (22/4).
Menurut dia, dampak konsumsi ikan tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung, namun berpotensi muncul dalam jangka panjang. Kandungan logam berat seperti merkuri, timbal (Pb), arsen dan kadmium dalam ikan sapu-sapu dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia.
Akumulasi ini berisiko memicu berbagai penyakit serius, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus. Herwin menjelaskan, merkuri dapat menyerang sistem saraf, otak, hingga organ vital seperti ginjal dan paru-paru.
Sementara, timbal diketahui berdampak pada saraf pusat yang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan serta gangguan perilaku. Adapun arsen memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi menyebabkan kanker, sedangkan kadmium dapat merusak ginjal serta sistem pernapasan.
Paparan dalam jangka panjang dari zat-zat tersebut juga dikaitkan dengan munculnya penyakit degeneratif. “Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya,”jelas Herwin.
Meskipun, ada anggapan bahwa pengolahan tertentu dapat mengurangi risiko, namun hingga saat ini belum ada metode yang benar-benar dapat menghilangkan kandungan logam berat secara aman.
Baca juga: 16,9 Kg Sabu Dari Kurir Malaysia Dimusnahkan
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi ikan sapu-sapu dan beralih ke jenis ikan lain yang lebih aman dan bergizi.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan. Langkah ini tidak hanya untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga sebagai upaya pencegahan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya ini, Herwin mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih bahan pangan, terutama yang berpotensi mengandung zat berbahaya dalam jangka panjang.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) bersama warga telah menangkap 1.831 kilogram atau 1,83 ton ikan sapu-sapu dari sejumlah titik perairan di 10 kecamatan sebagai upaya pengendalian ikan invasif tersebut.
Data menunjukkan, Kecamatan Makasar menjadi wilayah dengan kontribusi tangkapan terbesar, yakni 481,55 kilogram. Disusul Kecamatan Ciracas dengan 280 kilogram, lalu Kecamatan Cakung sebanyak 240,6 kilogram.
Wilayah lainnya juga mencatat angka tangkapan yang cukup signifikan, seperti Pasar Rebo 178 kilogram, Cipayung 189 kilogram, Kramat Jati 137,8 kilogram, Jatinegara 126,15 kilogram, Matraman 87 kilogram, Duren Sawit 64,5 kilogram, Pulogadung 47,2 kilogram.
Kemudian di Kecamatan Cipayung, keterlibatan warga terlihat dari penyebaran hasil tangkapan di delapan kelurahan. Kelurahan Cipayung mencatat tangkapan tertinggi sebesar 56 kilogram, diikuti Pondok Ranggon 40 kilogram, Setu 31 kilogram, Munjul 28,4 kilogram, Cilangkap 14,4 kilogram, Lubang Buaya 9,3 kilogram, Ceger 5,5 kilogram, dan Bambu Apus 4,4 kilogram.(net)
















