Mataram, KRsumsel.com – Dinas Kesehatan Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat sekitar 71 persen jamaah calon haji asal Kota Mataram yang berangkat ke Tanah Suci tahun musim haji 1447 Hijriah/2026 masuk kategori risiko tinggi (risti).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan di Mataram, Rabu (22/4) mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap 809 calon haji asal Kota Mataram, tercacat sekitar 71 persen dinyatakan risiko tinggi.
“Calon haji yang masuk kategori risti dipicu dengan beragam penyebab,”katanya. Beberapa penyebab calon haji masuk kategori risiko tinggi antara lain karena dipengaruhi faktor usia, apalagi jamaah calon haji yang berangkat tahun ini masih didominasi oleh jamaah lanjut usia (Lansia).
Selain itu, jamaah yang masuk kategori risti masih didominasi karena hipertensi atau tekanan darah tinggi, serta penyakit degeneratif yang umumnya diderita lansia jumlahnya cukup banyak.
“Ada diabetes, dan juga karena satu dua penyakit lainnya. Tapi itu masih memenuhi kriteria dari istitaah kesehatan,”katanya.
Baca juga: Kloter Pertama Jamaah Haji Indonesia Telah Diberangkatkan
Kendati masuk kategori risti lanjut Emirald, calon haji tersebut masih layak dari sisi kesehatan untuk berangkat ke Tanah Suci sebab dari sistem komputerisasi haji terpadu bidang kesehatan (Siskohatkes), jamaah tersebut dinyatakan layak berangkat.
“Dari kesehatan, jamaah sudah memenuhi istitaah sehingga walaupun dia berisiko tinggi, tapi untuk melaksanakan ibadah masih posisinya masih bisa,”katanya.
Untuk memastikan kondisi jamaah tetap sehat dan mandiri selama di Tanah Suci, Dinkes Kota Mataram sudah bertemu dan berkoordinasi dengan tim kesehatan yang akan mendampingi jamaah ke Tanah Suci.
“Kami sudah mengingatkan petugas agar memberikan perhatian dan pendampingan lebih kepada jamaah dengan risiko tinggi, bahkan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan tetapi juga bagaimana upaya pencegahannya di Tanah Suci,”katanya.
Emirald juga mengingatkan, pola makan, pola tidur dan istirahat jamaah sangat menentukan kesehatan. Untuk itu perlu pendampingan petugas dalam menjalankan ibadah.
Di sisi lain, perubahan cuaca panas saat ini turut menjadi perhatian untuk calon haji sebab bisa menyebabkan heatstroke sehingga harus diantisipasi oleh jamaah, karena situasi itu terjadi setiap tahun di Tanah Suci.
“Kondisi itu tentu menjadi atensi petugas kesehatan kami di sana. Tim kesehatan akan terus mengingatkan jamaah untuk selalu mengonsumsi obat dan memperbanyak minum air putih agar jamaah tidak dehidrasi,”katanya.(net)
















