Tujuh Teknik Touring yang Lebih Aman Diterapkan Astra Motor Pada Komunitas Motor Sumsel 

oleh

KRSumsel.com, Palembang – Touring menggunakan sepeda motor akan memberikan sensasi tersendiri, bagi petualangan dapat menikmati alam dengan kesempatan mengekspresikan diri bersama komunitas. Namun, Touring bukan hanya soal eksplorasi rute dan performa sepeda motor, tetapi juga bagaimana pengendara mampu menjaga konsistensi kontrol, ritme perjalanan, serta disiplin formasi.

Hal ini disampaikan Fathan Nayoda, selaku Safety Riding & Community Supervisor Astra Motor Sumsel.

“Dengan memahami teknik berkendara yang benar, touring dapat menjadi kegiatan yang aman sekaligus menyenangkan.” ujarnya. Rabu (26/11/25).

Dikatakannya, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas riding experience yang aman dan terkendali, tim Safety Riding Astra Motor Sumsel merangkum tujuh prosedur teknis yang direkomendasikan untuk seluruh peserta touring. Panduan ini dinilai mampu menekan risiko kecelakaan, menjaga efisiensi perjalanan, serta meningkatkan koordinasi rombongan di berbagai kondisi jalan.

1. Briefing Teknis Sebelum Start: Sebelum memulai perjalanan, seluruh peserta wajib mengikuti briefing terkait rute, titik istirahat, pembagian peran, formasi, hingga sistem komunikasi. Penyamaan persepsi di awal menjadi kunci dalam menjaga ritme konvoi dan menghindari manuver tak terduga.

Baca juga: Polisi Libatkan Anjing Pelacak untuk Sisir Rahang Alvaro di Cilalay

2. Formasi Staggered untuk Stabilitas Grup: Formasi zig-zag (staggered) direkomendasikan karena memberikan ruang gerak lebih aman bagi tiap motor. Road Captain (RC) bertugas mengatur tempo, sedangkan sweeper memastikan tidak ada peserta yang tertinggal. Formasi ini juga meningkatkan jarak pandang serta respons pengendara terhadap kondisi jalan.

3. Safety Gear Wajib dan Standar Proteks: Perlengkapan seperti helm bersertifikasi SNI/DOT, jaket pelindung, sarung tangan, sepatu tertutup, dan raincoat dianggap mandatory. Gear ini berfungsi sebagai lapisan proteksi utama saat terjadi insiden maupun perubahan cuaca ekstrem.

4. Kontrol Kecepatan dan Jarak Aman

Peserta wajib menjaga kecepatan stabil sesuai arahan leader. Dilarang melakukan overtaking di dalam rombongan dan setiap rider harus mempertahankan safe distance untuk memaksimalkan waktu reaksi saat terjadi perlambatan mendadak

5. Interval Istirahat 1–1,5 Jam

Break rutin tidak hanya bertujuan menjaga stamina rider, tetapi juga kesempatan untuk melakukan inspeksi ringan seperti pengecekan ban, suhu mesin, rem, hingga volume bahan bakar. Hal ini penting untuk mencegah potensi gangguan teknis di tengah perjalanan.

6. Komunikasi Visual Menggunakan Hand Signal: Karena komunikasi verbal tidak efektif saat touring, peserta harus memahami standar hand signal—mulai dari perubahan arah, pengurangan kecepatan, hingga peringatan adanya hambatan. Konsistensi sinyal sangat memengaruhi keamanan barisan.

7. Perlengkapan Tambahan untuk Kondisi Darurat: Tim Safety Riding menyarankan membawa toolkit dasar, kotak P3K, charger/powerbank, hingga daftar kontak darurat. Perlengkapan ini akan sangat membantu dalam situasi tidak terduga, seperti masalah teknis atau kondisi kesehatan rider.

“Dengan menerapkan tujuh prosedur ini, Astra Motor Sumsel berharap komunitas roda dua dapat meningkatkan disiplin berkendara dan menciptakan pengalaman touring yang lebih aman, efisien, dan profesional.” pungkasnya. (edi)