Palembang, KRsumsel.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat provinsi tersebut mengalami inflasi 0,27 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2025 yang disumbang dari sejumlah komoditas seperti cabai merah hingga daging ayam ras.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto di Palembang, Kamid (2/10) mengatakan, tingkat inflasi itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode Agustus 2025 yang tercatat deflasi 0,04 persen.
Namun, laju inflasi tersebut masih searah dengan inflasi nasional yang tercatat 0,21 persen secara mtm. “Masih ada PR Oktober, November, Desember. Harapannya pemda dan instansi terkait agar konsentrasi untuk menjaga laju inflasi, sehingga capaiannya sesuai target plus minus satu 2,5 persen,”katanya.
Baca juga:Juli Suryadi, Wabup Mempawah Diperiksa KPK
Ia mengatakan, penyumbang utama inflasi bulanan di Sumsel kali ini antara lain cabai merah, emas perhiasan, daging ayam ras, sigaret kretek serta ayam hidup.
Kondisi itu menurut dia, dipengaruhi oleh cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan baik itu dari sisi produksi maupun distribusi kebutuhan pangan.
“Dari komoditas itu jika berdasarkan kelompoknya, dorongan inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,14 persen dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,14 persen,”katanya.
Kemudian, untuk kelompok pengeluaran yang tercatat mengalami penurunan harga barang (deflasi) di antaranya pakaian dan kaki sebesar 0,19 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,03 persen.
Dari empat daerah pantauan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim yang tercatat 0,35 persen, Kota Palembang 0,30 persen, dan Lubuk Linggau 0,27 persen.
“Untuk inflasi terendah terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang tercatat 0,03 persen,”kata Wahyu.(net)














