KONSEP MENYIAPKAN PEMIMPIN MASA DEPAN

oleh
IMG-20220325-WA0015

Menanamkan Kemandirian Buat Putra Putri

Pandangan Brigjen TNI Joko Slamet, S.IP, M.Si, MM dan Ibu Vera Sylvia dalam Pernikahan adalah ibarat sebuah taman atau kebun yang perlu selalu dijaga dan dirawat. Niscaya kalau lupa merawat maka bermunculan duri dan semak yang akan mengganggu keharmonisan rumah tangga. Dari perkawinan kami dikarunia 3 orang anak, yaitu: Rovi Ardya Prawira dan Rizki Ardiza Prawira (putra) serta Alya Viera Syafitri (putri). Kehadiran mereka adalah sebagai amanah dari Allah SWT, yang mana mereka perlu didikan, dorongan dan pengalaman agar selalu tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Rumah merupakan tempat dan tumbuh berkembang yang utama bagi putra-putri kami. Semua bangsa besar– bangsa yang sudah maju sumber daya manusianya bermula tumbuh dari rumah-rumah warga negaranya. Tidak langsung serta merta jadi bagus dalam hitungan waktu melalui bengkel yang bernama seminar, pelatihan, workshop atau simposium.

Tidak ada sebuah kualitas yang besar muncul lewat usahaan dadakan, semua melalui proses dan berevolusi sepanjang waktu. Saya bersama istri selalu memotivasi putra-putri kami untuk selalu melakukan setiap proses kehidupan yang berkualitas. Masalah pendidikan merupakan hal yang sangat banyak mempengaruhi kehidupan sosial. Pendidikan juga berpengaruh pada well-being– kesehatan dan kesejahteraan. Keluarga kami memperhatikan hal-hal kecil termasuk soal jam tidur anak sewaktu kecil. Mereka harus tidur lebih cepat agar tidur bisa pulas dan badan serta fikiran mereka menjadi segar. Mereka perlu tidur sekitar jam 7 atau jam 8 per-malam. Jadinya mereka harus pergi tidur malam sekitar jam 9 atau 10 malam. Konsep mendidik putra-putri bagi keluarga kami adalah dengan menanamkan kemandirian atau self-help dan mencegah terbentuknya “generasi service”.

Generasi servis maksudnya bahwa mereka bisa menjadi hebat dengan prestasi akademik yang tinggi bukan karena kemandiriannya. Namun karena banyak diprogram dan diberi servis sejak usia dini (Rhenald Kasali, 2016). Saat bersekolah di SD, dan agar tidak bermasalah dengan mata pelajaran maka orangtua menyewa (membayar) guru privat untuk datang ke rumah guna bisa menemani mereka dalam mengerjakan PR, serta menghadapi ujian-uijian lainnya di sekolah. Itu semua bertujuan agar mereka bisa menjadi bintang pelajar di sekolah. Generasi service atas nama demi keberhasilan sekolah, mereka bebas dari tuntutan ikut membantu tugas-tugas di rumah. Mereka tidak boleh ikut merapikan dan mengurus rumah– tidak boleh menyapu, cuci piring, mensetrika, memasak nasi. Generasi service hanya terbelenggu oleh urusan akademik. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri– seperti makan, pakaian dan pernak pernik kecil lainnya, mereka siap dilayani. Sekali lagi, ini tidak berlaku bagi putra-putri kami, semua dilatih buat mandiri dan peka terhadap lingkungan.

Selain menanamkan konsep ilmu dunia, putra-putri kami juga harus kami bekali diri dengan spiritual. Mereka perlu belajar dan mengamalkan ajaran agama. Dari kecil mereka belajar mengaji, ikut didikan subuh dan juga kegiatan sosial lainnya. Agar mereka juga peka dan peduli dengan sesama.

Sebagai seorang kepala keluarga, saya selalu belajar buat menjadi ayah yang ideal bagi putra-putri saya. Ayah ideal merupakan sosok seorang ayah yang senantiasa menjadi dambaan putra-putri. Selalu memberikan keteladanan dan menjadi panutan. Bukan berarti bahwa ayah ideal itu selalu perfect (sempurna), sebagai manusia saya juga punya kekurangan, namun terbuka untuk menerima kritikan dari anak dan siapa saja. Kritikan tersebut adalah umpan balik (feed back) untuk menjadi maju.

Sekedar catatan bahwa strategi kami dalam mengasuh dan mendidik ketiga putra-putri kami dengan memberi ketauladanan, mengajarkan anak tentang kemandirian, dan yang lebih penting bahwa mereka harus tumbuh menjadi orang yang berani, santun, berakhlak mulia dapat dikatakan telah memperlihatkan hasil. Putra kami “Letda Inf Rovi Ardya Prawira, S.Tr.Han” tercatat sebagai peraih Adhimakayasa Akmil tahun 2018. Adhimakayasa adalah penghargaan tahunan kepada lulusan terbaik dari setiap matra TNI (juga Kepolisian). Penerima penghargaan ini adalah mereka yang secara seimbang mampu menunjukkan prestasi terbaik di tiga aspek: akademis, jasmani, dan kepribadian (mental). Penganugerahan Adhimakayasa secara langsung diberikan oleh Presiden RI. Kemudian “Ipda Rizki Ardiza Prawira, S.Tr.K” adalah lulusan Akpol tahun 2019. demikian semoga bisa menjadi inspirasi bagi orangtua semua…terang Brigjen TNI Joko Slamet, S.IP., M.Si., M.M.

Saat penyampaian akhir diselasa-sela kesibukan Brigjen TNI Joko Slamet, S.IP., M.Si., M.M. di Mabes TNI Cilangkap.(****)