Sule dan Mang Saswi Dilaporkan ke Polisi

user
Budiman 24 November 2022, 14:22 WIB
untitled

Krsumsel.com - Komedian Sule dan Sasongko Widjanarko alias Mang Saswi ikut terseret kasus Budi Setiawan Garda Pandawa atau biasa dipanggil Budi Dalton terkait pernyataannya yang memplesetkan miras sebagai minuman Rasulullah. Ketiganya pun dilaporkan oleh Aliansi Masyarakat Pecinta Rasulullah (Ampera) ke Polda Metro Jaya dengan nomor STLP/B/5984/XI/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Dalam berkas laporan, Sule, Budi Dalton, dan Mang Saswi dilaporkan dengan Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE. Ketiganya juga dilaporkan di Pasal 156 KUHP Juncto Pasal 156A KUHP.

"Ketiga nama ini kami anggap telah menyinggung perasaan umat beragama khususnya umat muslim," ucap Ketua Ampera, Syahrul Rizal, di Polda Metro Jaya, Rabu (23/11).


1. Kenapa Sule dan Mang Saswi Ikut Dilaporkan?

Sule dan Mang Saswi, lanjutnya, memang tak mengucapkan kata miras seperti yang dilontarkan Budi Dalton dalam sebuah tayangan yang disiarkan di saluran YouTube pribadi Budi Dalton, Ngobat. Namun begitu, karena keduanya tertawa dianggap setuju akan apa yang disampaikan Budi Dalton.

"Mereka secara refleks tertawa dan kami anggap ikut terlibat. Di situ sama halnya dia membenarkan dan mengiyakan. Jadi kami anggap terlibat," kata Syahrul Rizal.

2. Menyinggung Umat Islam
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan pernyataan Budi Dalton dirasa bermuatan SARA. Syahrul mengatakan, pernyataan itu dinilai menyinggung umat Islam.

"Dari laporan ini, ketiga orang ini kami merasa bahwa dari pernyataan yang disiarkan lewat YouTube itu mengundang SARA di mana Budi Dalton secara sadar ada kesengajaan di situ mengatakan bahwa miras adalah minuman Rasulullah," kata dia lagi.

 

3. Komedian Diharap Mencari Topik Lain untuk Bercanda
Atas laporannya, Syahrul Rizal dan juga kuasa hukumnya, Muhammad Mualimin berharap para komedian dapat memberikan candaan yang tidak menyudutkan.

"Harapan kami tentunya ke depannya pelawak Indonesia itu kalau melawak yang lebih konstruktif, lebih progresif, lebih menggembirakan, tidak ada rasa misalnya menyudutkan atau melecehkan kelompok lain," tutur Muhammad Mualimin diamini Syahrul Rizal.(*)

 

 

 

SUMBER

Kredit

Bagikan