Potensi Konflik Ukraina-Rusia Terhadap Stabilitas Dunia

user
elisa 07 Januari 2022, 10:56 WIB
untitled

Ditulis Oleh Yeni anggraini- Mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang

PALEMBANG, KRSumsel.com - Setelah keruntuhan Kekaisaran Rusia dan berdirinya Uni Soviet pada era Perang Dunia I, Ukraina tidak bisa menentukan nasib atas dirinya sendiri.

Semenjak Perang Dunia I usai dan serangkaian perang saudara yang brutal, Ukraina menjadi bagian dari Uni Soviet. Di satu sisi, gerakan nasionalis Ukraina yang sebelumnya sudah tumbuh, berjuang melalui gerakan bawah tanah.

Dalam palagan peperangan, orang Ukraina terpecah menjadi tiga kelompok. Beberapa orang Ukraina berjuang untuk Jerman sementara yang lain berjuang untuk Uni Soviet. Kelompok ketiga, terutama di bagian barat, berjuang untuk kemerdekaan mereka sendiri. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email Setelah Perang Dunia II usai, beberapa amendemen dari Konstitusi Soviet Ukraina disahkan sebagaimana dilansir USNI. Konstitusi tersebut memperbolehkan Soviet Ukraina bertindak sebagai negara berdaulat di hukum internasional dan dalam batasan tertentu berada sebagai bagian dari Uni Soviet pada waktu yang bersamaan.

Potensi Konflik Ukraina-Rusia Terhadap Stabilitas Dunia

Karena amendemen ini, Soviet Ukraina diperbolehkan menjadi salah satu dari pendiri dan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama-sama dengan Uni Soviet dan Soviet Belarus. Pada 1953, Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin meninggal dunia. Setelah itu, Krimea diserahkan dari Soviet Rusia ke Soviet Ukraina pada 1954.

Sejumlah negara demokrasi terkaya di dunia membentuk front persatuan melawan agresi Rusia terhadap Ukraina saat Inggris menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri di Kota Liverpool kemarin.

Pertemuan G7, yang dihadiri secara langsung oleh Menlu AS Antony Blinken dan rekan-rekannya dari Prancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Kanada, terjadi di tengah kekhawatiran internasional bahwa Rusia dapat menginvasi Ukraina.

Sementara itu, Rusia membantah merencanakan serangan apa pun. Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss bertemu Blinken pada Jumat malam waktu setempat di mana mereka menyatakan keprihatinan mendalam tentang penumpukan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina, menurut sebuah pernyataan kementerian tersebut.

Tak Ada Rencana AS Kirim Pasukan ke Ukraina Setiap serangan oleh Rusia "akan menjadi kesalahan strategis yang akan menimbulkan konsekuensi serius," katanya.

"Kita perlu membela diri terhadap ancaman yang berkembang dari aktor yang bermusuhan dan kita harus bersatu dengan kuat untuk melawan agresor yang berusaha membatasi batas kebebasan dan demokrasi," kata Truss kepada para menteri luar negeri pada awal pertemuan seperti dikutip Channel News Asia, Minggu (12/12).katanya

"Untuk melakukan ini, kita perlu memiliki suara persatuan yang lebih kuat," katanya.

Ukraina berada di pusat krisis dalam hubungan Timur-Barat setelah menuduh Rusia mengumpulkan puluhan ribu tentara dalam persiapan untuk kemungkinan serangan militer skala besar.

Rusia menuduh Ukraina dan Amerika Serikat berperilaku tidak stabil, dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan jaminan keamanan untuk perlindungannya sendiri.

Washington mengirim diplomat topnya untuk Eropa, Asisten Menlu Karen Donfried ke Ukraina dan Rusia pada 13 hingga 15 Desember untuk bertemu dengan pejabat senior pemerintah.

"Asisten Menlu Donfried akan menekankan bahwa kita dapat membuat kemajuan diplomatik untuk mengakhiri konflik di Donbas melalui implementasi perjanjian Minsk untuk mendukung Format Normandia," kata Kemeterian Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.(****)

Kredit

Bagikan