Olimpiade Tokyo Bikin Pamor Surfing Tanah Air Naik

oleh -119 pembaca

Jakarta, krsumsel.com – Dampak positif dirasakan surfing selepas Olimpiade Tokyo 2020. Pamor salah satu cabang olahraga (cabor) air ini terangkat setelah menempatkan Rio Waida sebagai wakil Indonesia dalam Olimpiade musim panas edisi ke-XXXII.

Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) Arya Subyakto, yang menyebut Olimpiade membawa perubahan besar bagi surfing Tanah Air. Menurutnya, masyarakat Indonesia tak sekadar mengetahui surfing sebagai olahraga prestasi tetapi kini juga memiliki atlet yang diidolakan, salah satunya Rio Waida.

“Olimpiade membawa berkah bagi surfing karena fenomena luar biasa terjadi setelah Rio tampil di Tokyo. Kini pamor surfing terangkat. Olahraga ini lebih dikenal, bahkan ditonton oleh masyarakat Indonesia,” kata Arya dalam keterangan tertulisnya.

Indonesia sejatinya telah memiliki surfer andalan sejak 1980-an. Mereka ialah Ketut Menda dan Made Kasim yang menjadi legenda Indonesia. Menda dan Kasim kerap mengibarkan Merah Putih di single event Internasional, bahkan masuk jajaran surfer yang menempati papan atas dunia. Ketut di posisi 21 dunia dan Made di urutan 23 dunia. Akan tetapi, kata Arya, tak banyak masyarakat Indonesia yang mengenal surfing saat itu.

“Bahkan saat kami membawa 2 emas, 1 perak, 3 perunggu di SEA Games 2019, gairahnya tidak seperti sekarang. Kini setiap Rio (Waida) bertanding dan disiarkan daring, penontonnya bertambah sampai 20 ribu. Mereka dari Indonesia karena kita bisa lihat dari kolom chat,” kata Arya.

SurfingPamor olahraga surfing di Indonesia naik berkat Olimpiade. Foto: Dok. KOI
Surfing merupakan satu dari lima cabang olahraga tambahan yang mulai debut di Tokyo. Olahraga ini juga sudah dipastikan bakal dipertandingkan pada Olimpiade 2024 Paris, Los Angeles (2028), dan Brisbane (2032).

“Kami bangga meloloskan atlet pada debut surfing Olimpiade. Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sangat membantu dan memenuhi kebutuhan kami saat Olimpiade, baik memfasilitasi I Ketut Agus Aditya Putra sebagai alternated athlete hingga menyediakan kamar hotel dadakan karena venue jauh dari athlete village,” kata Arya.

“Kami juga sangat berterima kasih karena KOI dan CdM telah memberi kepercayaan kepada Rio untuk menjadi flag bearer pada opening ceremony. Sebab dari situ, mata seluruh masyarakat Indonesia tertuju kepada atlet surfing kami.”

Arya berharap akan semakin banyak masyarakat Indonesia paham bahwa Nusantara memiliki potensi tinggi olahraga surfing. Terlebih, Indonesia memiliki pantai dan ombak yang bagus dan menjadi tujuan peselancar-peselancar dunia dan berpotensi menjadi devisa negara.

Terlebih, Presiden NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari sempat bertemu dengan Presiden Asosiasi Selancar Internasional (ISA) Fernando Aguerre di Olimpiade Tokyo. Keduanya sempat membicarakan peluang Indonesia menggelar turnamen kualifikasi untuk Olimpiade Paris.

“Yang perlu diketahui masyarakat Indonesia adalah bertanding di Olimpiade itu tidak mudah, perlu kualifikasi. Kami beruntung karena Pak Okto (sapaan Raja Sapta) sudah sempat bertemu dengan Presiden ISA di Tokyo. Kualifikasi pertama untuk Olimpiade Paris itu tempatnya di El Savador pada 2023. Ada satu slot kosong di kualifikasi kedua dan semoga bisa digelar di Indonesia,” kata Arya.

Indonesia mengirimkan dua surfer ke Olimpiade Tokyo, yaitu Rio dan Ketut. Rio terhenti pada ronde tiga setelah dihentikan surfer tuan rumah peringkat enam dunia Kanoa Igarashi pada laga man-on-man di Tsurigasaki Surfing Beach, 26 Juli. Sementara Ketut yang berangkat dengan status alternated athlete batal berlaga di Olimpiade karena surfer utama dalam kondisi baik untuk bertanding.(*)

 

SUMBER