Pergilah ke Naples dan Rasakan Kekalahan:Kebangkitan Napoli dan Keterpurukan Juventus

user
Budiman 01 Februari 2023, 13:57 WIB
untitled

Krsumsel.com -  Tim asal Naples itu, hingga berita ini turun, telah memenangi 17 dari 20 pertandingan di Liga Italia musim ini. Bahkan pelatih AS Roma, Jose Mourinho, sudah memberikan selamat kepada tim berjulukan Il Partenopei tersebut atas gelar Scudetto Serie A 2022/2023.

Ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya karena hanya 20 pertandingan yang telah dimainkan musim ini dan masih ada 18 pertandingan lagi, Napoli memimpin di puncak klasemen Liga Italia dengan perbedaan 13 poin dari peringkat kedua, Inter Milan. Rasanya tidaklah terlalu dini jika mengatakan bahwa Victor Osimhen dkk. telah bangkit dan bakal meraih titel Serie A setelah 'tertidur' sejak 1990.


Tidak dapat disangkal Napoli adalah tim yang paling menarik untuk ditonton akhir-akhir ini, memainkan sepak bola berpola menyerang yang telah menghasilkan 48 gol sejauh ini. Mereka juga satu-satunya tim yang relatif paling stabil di antara 19 tim lainnya. AC Milan sang juara bertahan, di sisi lain, malah makin terpuruk setelah dibantai Lazio 0-4 dan Sassuolo 2-5.

Inter Milan, sementara itu, masih suka ceroboh dan baru-baru ini kalah 0-1 di kandang dari Empoli. Mereka bangkit kembali dengan kemenangan di Cremonese, tapi mereka bukan Inter dua tahun lalu. Mereka telah kehilangan terlalu banyak pertandingan dan mungkin membutuhkan banyak peningkatkan di area defensif.

Juventus yang mendominasi Liga Italia dalam 10-15 tahun terakhir tak lebih baik. Malah, Si Nyonya Tua tampaknya makin rapuh menyusul sanksi pengurangan 15 poin. Napoli, tim yang berlokasi di Naples, menjadi kontestan paling ditakuti di Serie A saat ini, bahkan juga di Eropa.


Musim yang Aneh, Suporter Loyal, Tim Liga Italia Bangkit
Ini adalah musim yang aneh di Italia. Masyarakat Negeri Pizza, selain mengucapkan selamat tinggal kepada legenda sepak bola di Gianluca Vialli, juga absen melihat tim nasional absen dari Piala Dunia kedua berturut-turut. Sampdoria, klub tempat Vialli memenangkan scudetto pada 1991, berada dalam masalah keuangan serius dan terancam bangkrut. Mereka juga berjuang di Serie A, bersama Hellas Verona dan Cremonese.

Selain itu, skandal kembali muncul di Italia, dengan Juventus menderita penalti 15 poin dan itu mungkin bisa menjadi lebih buruk. Untungnya, penonton tetap 'setia' karena statistik mencatat ada rata-rata 28.400 secara keseluruhan. AC Milan dan Inter Milan rata-rata total mengumpulkan 72.000 lebih penonton di kedua klub Milan.

Sementara itu, AS Roma dan Lazio punya rata-rata lebih dari 60.000 di Roma. Napoli mendapatkan hampir 41.000 di pertandingan kandang mereka, yang mana jumlah tersebut merupakan yang terbanyak di antara 19 kontestan lainnya.

Tentu saja ada faktor kuat di balik membludaknya penonton di Naples. Tengok penampilan Napoli musim ini. Tidak cuma di Liga Italia saja, performa mereka di Liga Champions juga sangat meyakinkan. Liverpool dibuat kelimpungan berkat aksi-aksi Hirving Lozano cs sepanjang musim.

Klub-klub Italia tampil cukup baik di Eropa pada 2022/2023. Dari empat tim Serie A di Liga Champions, hanya Juventus yang gagal lolos ke babak sistem gugur. La Vecchia Signora kalah lima kali dari enam pertandingan babak grup. Mereka akan menghadapi Nantes di Liga Europa, bersama Roma, yang bermain imbang melawan RB Salzburg. Liga Champions menampilkan Inter versus Porto, AC Milan melawan Tottenham dan Napoli melawan Frankfurt.

Dengan performa bagus Napoli di kompetisi sejauh ini, yakni 20 gol dalam enam pertandingan dan lima kemenangan, dapatkah tim Italia selatan itu menjadi calon pesaing untuk trofi paling bergengsi di sepak bola Eropa? Lazio dan Fiorentina berada di babak 16 besar Europa Conference League dan masing-masing akan menghadapi Cluj dan Braga.


Badai Napoli
Napoli tidak henti-hentinya menebar pesona. Setelah mengalahkan Juventus 5-1, mereka jadi langganan tajuk utama. 'Badai Napoli', begitu tulis media-media Italia.

Senjata utama Napoli datang dari Victor Osimhen, yang telah mencetak 14 gol sejauh ini dan merupakan calon terdepan untuk penghargaan Capocannoniere sebagai pencetak gol terbanyak Serie A. Osimhen sedang dalam performa luar biasa dan pada usia 24 tahun, tidak diragukan lagi masuk dalam daftar belanja banyak klub.

Dia dihargai €84 juta berdasarkan situs Football Benchmark, tetapi dia pasti akan mendekati €100 juta jika Napoli memutuskan untuk membiarkan pemain Nigeria itu pindah. Ia terikat kontrak hingga Juni 2025.

Pemain bintang Napoli lainnya saat ini adalah gelandang Georgia berusia 21 tahun, Khvicha Kvaratskhelia, yang menyumbangkan assist lebih banyak dari pemain lain di Serie A musim ini.


Kehancuran Juventus?
Beberapa tahun yang lalu, sepertinya Juventus tetaplah Juventus seperti yang kita tahu. Mereka mencapai dua final Liga Champions pada 2015 dan 2017, memenangkan sembilan gelar Serie A berturut-turut antara 2012 dan 2020, dan empat Coppa Italia dalam jangka waktu yang sama.

Mereka memiliki tim all-star yang kuat, mampu membeli siapa yang mereka sukai di Italia dan kemudian, pada 2018, mereka merekrut Cristiano Ronaldo. Juventus telah menjadi satu-satunya tim Italia yang bisa menatap mata elite Eropa. Selain itu, mereka adalah sosok berpengaruh di sepak bola Eropa, sebagian besar karena upaya mantan ketua mereka, Andrea Agnelli.

Beberapa tahun terakhir ini sulit bagi Juve, utamanya setelah Inter Milan meraih Scudetto pada 2021 dan AC Milan pada 2022. Penampilan mereka di Eropa tidak bagus dan mereka kehilangan banyak uang, sedemikian rupa sehingga mereka harus mencari likuiditas segar dari pemegang saham mereka. Pandemi sama sekali tidak membantu, tetapi Juventus terlihat seperti klub yang sudah terlalu lama hidup di luar kemampuannya. Lebih buruk lagi, era CR7 tidak memberikan manfaat finansial yang diharapkan, dan malah sebaliknya.

Juventus telah dikurangi 15 poin oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), yang telah membuat tim tersebut turun jauh di klasemen dan berdampak negatif pada harga saham mereka di pasar saham. Belum ada yang tahu alasan pastinya, tetapi Juventus telah berada di bawah pengawasan selama berbulan-bulan atas pembayaran gaji, penilaian yang tidak realistis seputar pertukaran pemain dan penyalahgunaan capital gain.

 
Manipulasi Keuangan
Ini rumit meski Juventus bukan satu-satunya klub Italia yang keuangannya terlihat tidak baik. Agnelli, yang meninggalkan klub pada 2022, telah diskors selama dua tahun setelah Juve dinyatakan bersalah melakukan pembukuan palsu, manipulasi pasar, dan pengajuan laporan keuangan yang menyesatkan. Ya, apa yang dilakukan Si Nyonya Tua sudah 'keterlaluan'.

Dari 62 transfer yang diselidiki, Juventus terlibat memanipulasi 42 di antaranya. Juve telah menghabiskan lebih dari €800 juta untuk pemain Serie A dan B selama 23 tahun terakhir. Pengadilan sedianya hanya ingin mengurangi sembilan poin 'saja', tetapi setelah ada temuan baru seputar manipulasi gaji pemain saat pandemi, pengurangan 15 poin diberlakukan.

Selama dua musim terakhir, Juventus telah membuat kerugian sebelum pajak sebesar €460 juta. Tagihan gaji klub tinggi, berjumlah €352 juta (85% dari pendapatan) dan telah naik hampir €100 juta dalam lima tahun. Pada saat yang sama, penampilan Juve di Liga Champions mengalami penurunan; pada 2022/2023, mereka tersingkir di babak penyisihan grup dan dalam tiga musim sebelumnya, mereka kalah di babak 16 besar. Ini jelas memengaruhi pendapatan mereka.(*)

SUMBER

Kredit

Bagikan