BNPB Mengusung Konsep Mitigasi Bencana Tsunami Berbasis Ekosistem

user
elisa 30 November 2021, 08:30 WIB
untitled

Jakarta, KRsumsel.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengusung konsep mitigasi bencana tsunami berbasis ekosistem dengan merawat vegetasi mangrove untuk menjamin fungsi perlindungan dalam jangka waktu hingga ratusan tahun.

“Salah satu opsi dalam penanggulangan bencana adalah hidup berdampingan dengan bencana. Salah satunya dengan menanam mangrove, sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak tsunami,” kata Kepala Sekretaris BNPB Lilik Kurniawan dalam keterangan tertulis yang diterima. di Jakarta, Senin.

Menurutnya, hidup berdampingan dengan bencana juga menuntut semua pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapinya, baik melalui infrastruktur maupun budaya, seperti pengetahuan tentang potensi risiko bencana sehingga mampu meminimalisir dampak saat terjadi bencana. .

“Penanaman mangrove merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesiapsiagaan tsunami. Kemudian masyarakat diharapkan tahu apa yang harus dilakukan, sehingga kita dapat memahami bagaimana cara menyelamatkan diri dari tsunami,” ujarnya.

Hal itu juga yang dilakukan BNPB, dengan melakukan mitigasi berbasis vegetasi sejalan dengan kegiatan Rumah Zakat Indonesia yang sekaligus membangun Kampung Bunga di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menjadi kampung wisata berbasis “ekowisata”. melalui kawasan Mangrove Watu Mejo.Park.

BNPB Mengusung Konsep Mitigasi Bencana Tsunami Berbasis Ekosistem

“Dengan adanya lahan mangrove Desa Kembang yang berada di sepanjang bantaran Sungai Grindulu, maka jika ada tsunami yang masuk dari muara, energi luapan bisa dikurangi dengan adanya mangrove,” ujarnya.

BNPB, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten dan Kota Jawa Timur, DPRD Kabupaten Pacitan, unsur TNI dan Polri, forkopimda, Forum PRB Jawa Timur, dan Kabupaten Pacitan, lembaga kemanusiaan Jatim dan Kabupaten Pacitan, kelompok relawan, sekolah perwakilan , madrasah, Pramuka dan perwakilan masyarakat desa pesisir selatan melakukan penanaman mangrove bersama pada Minggu (28/11).

Kegiatan yang juga dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia ini, diawali dengan peresmian lokasi wisata Watu Mejo Mangrove Park oleh Sekjen BNPB Lilik Kurniawan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, Wakil Bupati Pacitan Gagarin dan Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Daerah. Badan (BPBD) Provinsi Jawa Timur Budi Santosa, dan Dirut Rumah Zakat Nur Effendi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Budi Sentosa mengatakan, upaya penanganan yang dilakukan berbagai pihak harus dimulai sejak prabencana.

“Salah satunya dengan menanam mangrove, mangrove bisa mencegah abrasi laut, meredam gelombang tsunami dan bisa dimanfaatkan secara ekonomis,” ujarnya.

Vegetasi dapat meredam gelombang tsunami, sehingga diperlukan perawatan dan pemeliharaan setelah tanam agar dapat berfungsi secara optimal jika terjadi bencana.

Seperti di Pantai Teleng Ria, Kabupaten Pacitan, katanya, sejak 2010 sudah ada vegetasi cemara, ketapang dan trembesi di sepanjang pantai yang penting untuk dijaga, karena keberadaan vegetasi di sepanjang pantai secara signifikan dapat mengurangi tsunami hingga batas tertentu.

Pemerintah daerah perlu memperhatikan kondisi vegetasi yang membentuk hutan pantai.

“Jika pada setiap batang pohon jarak antar muka tanah dengan tinggi cabang pertama lebih dari 1,5 meter, maka perlu dilakukan penanaman vegetasi baru di antara tegakan yang ada agar fungsi reduksi tsunami dapat optimal,” ujarnya. dikatakan.(Anjas)

Kredit

Bagikan