Mewaspadai Klaster Baju Lebaran

oleh -224 pembaca

Jakarta, KRsumsel.com – Mudik dan belanja nyata-nyata sudah menjadi tradisi bagi tak sedikit warga menjelang akhir Ramadhan dari tahun ke tahun di Indonesia.

Pun demikian di tahun ini, tahun kedua menapaki pandemi virus corona jenis baru (COVID-19) yang entah kapan akan berakhir. Meski ada pandemi, gelombang mudik dan belanja tetap saja terjadi seperti pergerakan sebuah gelombang.

Pelarangan mudik disiasati dengan percepatan waktu, yakni dipercepat sebelum tanggal pelarangan total pada 6-17 Mei 2021. Walaupun gelombang mudiknya tidak sebesar dibanding sebelum ada pandemi, tetap saja terjadi pergerakan warga dari perkotaan ke berbagai daerah.

Di sisi lain sebagian warga yang tidak mudik atau belum mudik larut dalam gelombang menuju pasar dan pusat-pusat perbelanjaan. Selain membeli kebutuhan rumah tangga, tampak toko pakaian dipadati orang.

Di Pasar Tanah Abang, pemandangan antrean terjadi secara mencolok sepanjang pekan lalu hingga hari-hari ini. Berjubelnya orang ingin berbelanja pakaian Lebaran meniadakan kekhawatiran terhadap penyebaran dan penularan virus corona secara masif.

Pergerakan orang untuk memenuhi ambisinya demi baju Lebaran seperti gelombang tsunami. Orang datang dari berbagai penjuru dengan beragam moda transportasi.

Pergerakan itu menunjukkan bahwa perburuan terhadap pakaian Lebaran seolah lebih penting daripada kekhawatiran dan ketakutan terhadap virus corona. Padahal sudah disampaikan berulangkali oleh para ahli kesehatan dan pemerintah bahwa virus ini sangat potensial menyebar di kerumunan.

Sidak

Membludaknya orang memenuhi pasar grosir Tanah Abang itu menjadi alasan Gubernur DKI
Jakarta Anies Baswedan bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyambangi Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ketiganya menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Tanah Abang setelah beredarnya video viral pengunjung Pasar Tanah Abang menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah. Sidaknya terkait penerapan disiplin protokol kesehatan untuk mencegah COVID-19.

Data yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sangat mencengangkan banyak pihak. Terjadi lonjakan pengunjung lebih dari dua kali lipat di Pasar Tanah Abang pada akhir pekan lalu.

Hari Sabtu (1/5) terjadi lonjakan jumlah pengunjung yang sebelumnya 35 ribu menjadi 87 ribu. Pada Ahad (2/5) diperkirakan sekitar 100 ribu pengunjung.

Hampir setengah dari pengunjung Pasar Tanah Abang datang dan pulang menggunakan jasa angkutan kereta rel listrik (KRL). Gelombang pengunjung itu juga turut menimbulkan kerumunan di Stasiun Tanah Abang.

Selain KRL, pengunjung datang dengan beragam moda transportasi; busway, taksi, bajaj, ojek, angkot hingga kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Dari beragam penjuru, semua bertumpu di Pasar Tanah Abang.

Kondisi itupun memaksa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan rekayasa jam operasional Pasar Tanah Abang dengan sebagian pasar tutup pada pukul 16.00 WIB dan sebagian lagi tutup jam 17.00 WIB.

Seperti tipologi pengunjung pasar pada umumnya, situasi di Pasar Tanah Abang jam kedatangan orang berbeda-beda. Ada yang datang pagi dan ada pula yang siang tapi jam pulangnya bersamaan.

Karena itu, salah satu penyebab terjadinya “penumpukan” pengunjung di Pasar Tanah Abang adalah jam tutup yang bersamaan. Maka di sinilah urgensi kebijakan yang mengharuskan dilakukan pengaturan jam operasional tersebut.

Stasiun

Tidak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan pengelola kereta api untuk membatasi kerumunan di Stasiun Tanah Abang dan Pasar Tanah Abang.

PT KAI pun meniadakan keberangkatan dan pemberhentian kereta di Stasiun Pasar Tanah Abang pada pukul 15.00 sampai 19.00 WIB.

Polda Metro Jaya bersama TNI telah mendirikan posko pengamanan untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan masyarakat di Pasar Tanah Abang.

Sebanyak 2.500 personel gabungan dikerahkan untuk mengawasi protokol kesehatan dan mengantisipasi lonjakan pengunjung di Pasar Tanah Abang. Petugas disebar untuk mengawal sejumlah titik rawan kerumunan.

Upaya mengendalikan gelombang warga menuju Pasar Tanah Abang juga dilakukan dengan membatasi kapasitas pengunjung hanya 50 persen. Selain menutup Stasiun Tanah Abang pada jam tertentu, akses transportasi umum lainnya juga dibatasi serta dilakukan pengalihan arus lalu lintas.

Dari gambaran itu, demikian ketat pembatasan yang dilakukan agar tidak lagi terjadi kerumunan puluhan ribu orang. Sasarannya tentu untuk menghindari terjadinya lonjakan kasus positif COVID-19 dari kerumunan di pasar.

Dalam konteks penelusuran (tracing) yang telah dilakukan terhadap para penyintas, sebelumnya telah terjadi muncul klaster, antara lain pasar tradisional, klaster perkantoran, dan klaster rumah tangga.

Klaster-klaster itu terjadi dari kerumunan dan transmisi jarak dekat antarpersonal. Karena itu, kerumunan pada belanja baju Lebaran kali ini berpotensi memunculkan klaster tersendiri; katakanlah klaster baju Lebaran.

Ini persoalan yang sedang dihadapi dalam penanganan pandemi COVID-19 hari-hari ini. Tren kasus positif harian secara nasional dalam beberapa pekan terakhir relatif stagnan di angka sekitar 5.000.

Angka itu dikhawatirkan naik tajam (melonjak) akibat terjadinya kerumunan belanja di pasar menjelang Lebaran. Kesadaran kolektif perlu dipahami semua orang agar tidak terjadi lonjakan kasus baru COVID-19.

Baju baru

Lantas mengapa gelombang orang “menyerbu” di pasar dan pusat perbelanjaan termasuk Tanah Abang terjadi hampir bersamaan?

Beberapa alasan melatari fenomena tersebut. Pertama, belanja Lebaran sudah menjadi kebiasaan. Harus diakui di sebagian warga telah terbiasa membelikan baju Lebaran, terutama untuk anak-anak, sebagai bagian dari “reward” karena puasanya penuh atau sekadar hadiah karena mampu belajar puasa walaupun setengah hari.

Itulah sebabnya, bagi sebagian anak, Lebaran identik dengan baju baru. Ketika berbelanja baju untuk anak-anak maka bisa jadi muncul keinginan membeli baju untuk orang tuanya.

Kedua, niat membeli pakaian Lebaran terdorong oleh cairnya Tunjangan Hari Raya (THR). Tentu bukan THR-nya yang salah tetapi lebih pada niat penerimanya membelanjakannya.

Lantas mengapa Pasar Tanah Abang yang paling ramai padahal di Jakarta banyak pusat belanja dan grosir?

Lagi-lagi beberapa alasan melatari fenomena tersebut. Pertama, akses transportasi yang mudah dengan tarif sangat terjangkau, terutama KRL dan busway.

Kemudahan itu semakin nyata menjadi pilihan dengan adanya integrasi antarmoda transportasi. Dengan ketersediaan moda transportasi yang memadai, maka yang belanja di Tanah Abang bukan hanya warga Ibu Kota, tetapi juga warga dari sekitar yang terjangkau KRL seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Kedua, citra (image) bahwa belanja di Pasar Tanah Abang lebih murah dibanding di lokasi lain. Ketiga, sebagai grosir terbesar di Asia Tenggara, variasi dan model pakaian dinilai lebih beragam sehingga memberi keleluasaan dalam memilih.

Alasan-alasan itu menjadi tantangan bagi pusat belanja dan grosir lainnya untuk mendapatkan ceruk dari tingginya minat orang berbelanja di Tanah Abang, terutama menjelang Lebaran. Dengan demikian, gelombang tsunami orang yang ingin berbelanja tidak menuju satu titik; Tanah Abang.

Dengan terpecahnya gelombang, maka potensi kerumunan diharapkan tidak terjadi sehingga kemungkinan munculnya klaster baju Lebaran dapat ditekan seminimal mungkin.

Di sinilah pentingnya memperhatikan saran beberapa pihak agar warga tidak hanya menjadikan Tanah Abang sebagai fokus belanja lebaran. Di DKI Jakarta banyak sekali tempat belanja kebutuhan Lebaran terutama pakaian; dari pasar tradisional, pusat belanja hingga grosir.

Banyaknya tempat belanja selayaknya menjadi pilihan untuk menghindari kerumunan yang berpotensi penularan dan penyebaran virus corona.

Namun yang paling bijak adalah menahan diri dari nafsu belanja dengan mengutamakan pembelian barang-barang yang benar-benar dibutuhkan.(Anjas)