Penyebab Konflik Israel Palestina, Begini Sejarahnya

user
adminoke 24 Mei 2022, 20:31 WIB
untitled

Konflik Palestina dan Israel, hingga kini masih menjadi isu kemanusiaan yang belum berakhir. Konflik yang bermula sejak tahun 1947 ini bahkan masih sering memanas. Di mana penduduk Israel terus berusaha menguasai wilayah yang seharusnya menjadi hak dari warga negara Palestina.

Dalam beberapa waktu terakhir, Israel pun kerap mengusik kedamaian warga Palestina yang ingin merayakan peringatan hari keagamaan di Masjid Al Aqsa. Bukan hanya itu, Israel juga terus berusaha mengusir penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan dengan menghancurkan rumah-rumah atau permukiman yang ada.

Tentu ini merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia, di mana setiap manusia seharusnya berhak untuk hidup dengan aman dan tenang. Begitu juga dengan hak dalam melakukan kegiatan keagamaan dengan bebas dan terjamin. Sebagai masalah kemanusiaan, seharusnya konflik Israel Palestina ini bisa mendapatkan perhatian dan empati dari dunia.

Dengan begitu, penting bagi setiap individu untuk memahami bagaimana asal mula penyebab konflik Israel Palestina yang terjadi hingga kini. Dengan memahami hal ini, Anda mengedukasi diri sendiri dan orang-orang disekitar tentang konflik yang terjadi. Sehingga Anda bisa berpartisipasi dalam membela perdamaian dunia. Dilansir dari laman History, berikut kami merangkum penyebab konflik Israel Palestina yang perlu diketahui.

Awal Negara Palestina Pemisahan Sebagian Wilayah

Jauh sebelum penyebab konflik Israel Palestina bermula, Palestina merupakan suatu negara yang ditempati oleh penduduk atau orang Filistin pada abad ke-12 SM. Sepanjang sejarah, Palestina telah diperintah oleh banyak kelompok, termasuk Asyur, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Arab, Fatimiyah, Turki Seljuk, Tentara Salib, Mesir, dan Mameluke.

Kemudian, dari tahun 1517 hingga 1917, Kesultanan Utsmaniyah menguasai sebagian besar wilayah tersebut. Ketika Perang Dunia I berakhir pada tahun 1918, Inggris mengambil alih Palestina. Liga Bangsa-Bangsa mengeluarkan mandat Inggris untuk Palestina, yaitu sebuah dokumen yang memberi Inggris kendali administratif atas wilayah tersebut, termasuk ketentuan untuk mendirikan tanah air nasional Yahudi di Palestina yang mulai berlaku pada tahun 1923.

Pada tahun 1947, setelah lebih dari dua dekade pemerintahan Inggris, PBB mengusulkan rencana untuk membagi Palestina menjadi dua bagian: negara Yahudi merdeka dan negara Arab merdeka. Kota Yerusalem yang diklaim sebagai ibu kota oleh orang Yahudi dan Arab Palestina akan menjadi wilayah internasional dengan status khusus.

Para pemimpin Yahudi menerima rencana itu, tetapi banyak orang Arab Palestina dengan keras menentang, di mana beberapa di antaranya telah secara aktif melawan kepentingan Inggris dan Yahudi di kawasan itu sejak tahun 1920-an. Kelompok-kelompok Arab berpendapat bahwa mereka mewakili mayoritas penduduk di wilayah tertentu, harus diberikan lebih banyak wilayah. Mereka mulai membentuk tentara sukarelawan di seluruh Palestina.

Israel Menjadi Negara dan Lahirnya PLO

Sejak datangnya penduduk Yahudi ke Palestina, yang tidak lain menjadi penyebab konflik Israel Palestina, pada Mei 1948 Inggris menarik diri dari Palestina dan Israel mendeklarasikan dirinya sebagai negara merdeka. Tentu ini menyiratkan bahwa Israel bersedia melaksanakan Rencana Pemisahan.

Kemudian, tentara Arab tetangga bergerak untuk mencegah pembentukan negara Israel. Perang Arab-Israel 1948 yang terjadi melibatkan Israel dan lima negara Arab, yaitu Yordania, Irak, Suriah, Mesir, dan Lebanon. Pada akhir perang pada Juli 1949, Israel menguasai lebih dari dua pertiga bekas Mandat Inggris, sementara Yordania menguasai Tepi Barat dan Mesir menguasai Jalur Gaza.

Konflik yang terus berlanjut, kemudian lahirlah Orgaisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dibetuk untuk tujuan mendirikan negara Arab Palestina di tanah yang sebelumnya dikelola di bawah Mandat Inggris, juga wilayah yang yang diduduki secara tidak sah oleh Negara Israel.

Meskipun PLO pada awalnya didedikasikan untuk penghancuran Negara Israel sebagai sarana untuk mencapai tujuannya menjadi negara Palestina, dalam Kesepakatan Oslo 1993, PLO menerima hak dan keberadaan Israel, sebagai imbalan atas pengakuan formal PLO oleh Israel.

Perang Enam Hari dan Negara Palestina Saat Ini

Perang Enam Hari dipicu selama periode gesekan diplomatik yang bergejolak dan pertempuran kecil antara Israel dan tetangganya. Pada bulan April 1967, bentrokan memburuk setelah Israel dan Suriah terlibat pertempuran udara dan artileri yang ganas di mana enam jet tempur Suriah dihancurkan.

Setelah pertempuran udara April, Uni Soviet memberi Mesir intelijen bahwa Israel sedang memindahkan pasukan ke perbatasan utara dengan Suriah dalam persiapan untuk invasi skala penuh.

Informasi itu tidak akurat, tetapi bagaimanapun, itu mampu menggerakkan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser untuk memajukan pasukan ke Semenanjung Sinai, di mana mereka mengusir pasukan penjaga perdamaian PBB yang telah menjaga perbatasan dengan Israel selama lebih dari satu dekade.

Pasukan Pertahanan Israel kemudian melancarkan serangan udara terhadap Mesir pada 5 Juni 1967. Konflik ini menarik Yordania dan Suriah untuk berada pada pihak Mesir. Namun sayangnya, perang enam hari ini, pada memberikan keuntungan besar pada pihak Israel. Di mana Israel menguasai Jalur Gaza, Tepi Barat, Semenanjung Sinai

Penyebab konflik Israel Palestina yang dimulai sejak tahun 1947 pun tahun demi tahun, masih tetap berlanjut. Kemarahan warga negara Palestina juga semakin meluap setelah pendudukan Israel berlangsung di Gaza dan Jalur Barat. Beberapa kesepakatan pun berhasil dilakukan, namun tidak kunjung memberikan keleluasaan dan kebebasan Palestina secara penuh.

Hingga kini, Palestina masih berjuang untuk menjadi negara resmi yang diakui oleh semua negara. Meskipun orang-orang Palestina menduduki daerah-daerah penting, termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza, beberapa orang Israel, dengan izin pemerintah mereka, terus menetap di daerah-daerah seharusnya menjadi hak Palestina.

Banyak kelompok hak asasi internasional menganggap pemukiman seperti itu ilegal, perbatasan tidak jelas, dan konflik terus-menerus berlanjut. Pada Mei 2017, para pemimpin Hamas memberikan dokumen yang mengusulkan pembentukan negara Palestina menggunakan perbatasan yang ditentukan tahun 1967, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Namun, kelompok tersebut menolak untuk mengakui Israel sebagai sebuah negara, dan pemerintah Israel segera menolak rencana tersebut.

Pada Mei 2018, ketegangan meletus ketika Kedutaan Besar AS pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem. Merasa ini sebagai sinyal dukungan Amerika untuk Yerusalem sebagai ibu kota Israel, warga Palestina menanggapi dengan protes di perbatasan Gaza-Israel. Pada unjuk rasa itu, mengakibatkan kematian puluhan pengunjuk rasa.

Sementara begitu banyak sejarah Palestina telah melibatkan pertumpahan darah, perpindahan, dan ketidakstabilan, banyak pemimpin dunia terus bekerja menuju resolusi yang akan menghasilkan perdamaian di seluruh kawasan.

SUMBER 

Kredit

Bagikan