Legenda si Tanggang, Kisah Malin Kundang versi Melayu

user
adminoke 05 Juni 2020, 20:06 WIB

Si Tanggang adalah sebuah cerita dongeng masyarakat Melayu yang mengisahkan kehidupan seorang pemuda bernama Si Tanggang yang mendurhakai ibunya, dan akhirnya berubah menjadi batu karena dikutuk oleh si ibu dengan makbul Tuhan.

Si Tanggang adalah antara dongeng yang paling populer di kalangan orang Melayu. Ia diceritakan melalui lisan secara turun-temurun.

Beberapa tempat di Kepulauan Melayu dikaitkan dengan dongeng Si Tanggang. Diantaranya adalah Jong Batu di Brunei, Batu Caves di Malaysia, dan Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Tempat-tempat ini, menurut kepercayaan masyarakat setempat, berisi cerita sejarah Si Tenggang menjadi batu.

Legenda si Tanggang

Pada suatu waktu, Si Talang dan Si Deruma memiliki seorang anak lelaki bernama Si Tanggang. Kehidupan mereka sekeluarga amatlah miskin. Si Tanggang selalu berkhayal untuk menjadi kaya dan terkenal.

Pada suatu hari, Si Tanggang terlihat sebuah kapal besar berlabuh di muara sungai yang dekat dengan rumahnya. Si Tanggang pergi bertemu dengan Nakhoda kapal itu dan meminta untuk dijadikan krunya. Nakhoda kapal itu langsung setuju karena telah melihat efisiensi Si Tanggang bersampan dan bekerja.

Meskipun Si Talang dan Si Deruma sangat keberatan untuk melepaskan Si Tanggang berlayar sesuai kapal Nakhoda itu, mereka terpaksa mengalah. Si Tanggang berjanji akan kembali ke desa setelah menjadi kaya.

Si Tanggang melakukan apa saja pekerjaan yang diperintahkan oleh Nakhoda. Nakhoda sangat suka dengannya karena dia rajin bekerja. Lalu, Si Tanggang pun diambil sebagai anak angkat. Bila Nakhoda menjadi uzur, maka Si Tanggang ditunjuk menjadi nakhoda baru. Dia disebut Nakhoda Tanggang.

Si Tanggang efisien dan pandai berbisnis. Namanya menjadi terkenal. Jadi dia diundang oleh Sultan ke istana. Tidak lama kemudian, Si Tanggang pun menikah dengan putri Sultan. Si Tanggang membawa istrinya berlayar ke banyak tempat di seluruh negeri.

Pada suatu hari, kapal Si Tanggang berlabuh di muara sungai desa asal-usulnya. Orang kampung mengetahui nakhoda kapal itu Si Tanggang. Mereka pun mengatakan kepada orang tuanya.

“Anak kita sudah pulang. Marilah kita pergi tengok “kata Si Talang.

“Ya, aku rindukan Si Tanggang. Kabarnya dia sudah kaya sekarang, “kata Deruma dengan gembira. Si Talang dan Si Deruma pun pergilah mengayuh sampan menuju ke kapal Nakhoda Tanggang. Si Deruma membawa makanan favorit Si Tanggang, yaitu pisang salai.

Ketika tiba di kapal, seorang anak kapal melarang mereka naik. Seketika kemudian, Si Tanggang muncul dengan istrinya.

“Siapakah kedua orang tua ini?” Tanya Si Tanggang kepada krunya.

“Mereka mengaku sebagai orang tua tuan,” jawab anak kapal itu.

“Betulkah mereka ini orang tua kanda?” Tanya istri Si Tanggang.

Si Tanggang malu untuk mengaku orang tua itu orangtuanya. Kesusahan dan kemiskinan membuat Si Talang dan Si Deruma terlihat begitu lemah dan daif sekali.

“Orangtua kanda? Oh, tidak! Kanda tidak memiliki orang tua lagi. Mereka bukan orang tua kanda. Jangan biarkan kedua pengemis ini naik ke kapal! “Hardik Si Tanggang. Mukanya merah padam karena malu dan marah.

“Oh, anakku, Si Tanggang! Aku ibumu. Ibu ada bawakan pisang salai kegemaranmu, nak “kata Si Deruma.

“Pergi! “Teriak Si Tanggang. Dia memukul jari ibunya yang bergayut pada bagian tepi kapal. Pisang salai yang dibawa ibunya, dibuang ke laut.

Si Talang dan Si Deruma merasa terlalu sedih dan kecewa. Sungguh tidak disangka anak kesayangan mereka telah berubah. Mereka pun mendayung ke tepi.

Ketika tiba di daratan, Si Deruma memandang ke langit. Sambil mengangkat kedua belah tangan dia berseru “Oh, Tuhan! Tunjukkanlah kepada Si Tanggang bahwa akulah ibu kandungnya. “

Tiba-tiba petir berbunyi. Angin bertiup kencang. Kapal yang sedang berlabuh itu terombang-ambing. Ketika itulah, Si Tanggang merasa kesal. Dia sadar Tuhan telah mengabulkan doa ibunya. Dia akan menerima balasannya karena telah memberontak.

“Oh, ibu! Maafkan Tanggang. Tanggang mengaku, Tanggang anak ibu! ‘ teriak Si Tanggang.

Akan tetapi, Si Tanggang sudah terlambat. Gelombang yang kuat memecahkan kapalnya. Ketika badai reda, kapal Si Tanggang menjadi batu. Semua kru juga berubah menjadi batu. Si Tanggang dan istrinya turut menjadi batu. (histori.id)

Kredit

Bagikan