Asal Usul Nama dan Sejarah Kabupaten Banyumas

user
adminoke 11 Juli 2021, 23:07 WIB
untitled

Banyumas merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Kabupaten dengan ibukota Purwokerto ini berbatasan dengan Kabupaten Brebes di utara, Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen di timur, serta Kabupaten Cilacap di sebelah selatan dan barat. Masyarakat Banyumas terkenal akan dialeknya yang khas, yakni bahasa jawa Banyumasan. Dialek Banyumasan atau yang kerap dijuluki bahasa ngapak ini cukup berbeda dengan bahasa jawa standar dialek Mataraman. Disebut ngapak karena ciri khas dialek ini yang menyebut bunyi k pada akhir kata dibaca penuh apa adanya. Kabupaten Banyumas memiliki semboyan SATRIA yang berarti Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman.

Asal Usul Nama Banyumas

Ada beberapa versi yang berkembang mengenai asal usul penyebutan nama Banyumas:

Versi pertama menyebutkan bahwa sebutan nama Banyumas berasal dari kata banyu (air) dan mas (emas). Konon dahulu kala, daerah yang kelak bernama banyumas ini disebut dengan nama Selarong. Saat itu di wilayah Selarong sedang dilanda musim kemarau panjang. Sumur-sumur warga dan sungai ikut mengering. Saking susahnya mendapatkan air, para warga juga membuat sebuah belik, yaitu galian tanah di tepi sungai dengan berharap ada air yang tersisa di sana. Suatu ketika, seorang tamu asing dengan berkuda singgah di daerah Selarong. Tamu asing ini mempunyai perilaku yang aneh, sehingga meresahkan warga. Oleh karenanya, penguasa praja akhirnya menangkap tamu asing tersebut dan memasukkannya ke dalam ruang tahanan.

Saat tamu asing ini dimasukkan dalam tahanan, awan hitam tampak menyelimuti langit Selarong. Tidak berselang lama hujan turun dengan lebatnya. Warga Selarong yang telah lama menantikan turunnya hujan pun bersuka cita bagaikan mendapat hujan emas. Mereka berteriak bersahut-sahutan sambil berkata "banyu, banyu, banyu", sedang yang lainya berkata "emas, emas, emas". Perkataan yang diucapkan serempak itu lama-kelamaan terdengar menjadi Banyu-emas, yang kemudian menjadi Banyumas. Sejak saat itulah, masyarakat Selarong menyebut daerah itu dengan nama Banyumas.

Tamu asing yang menjadi tahanan pun kemudian dibebaskan oleh penguasa setempat. Konon tamu tersebut berjalan ke arah barat menuju bukit Dawuhan. Di sana, ia belajar kepada Embah Galagamba yang terkenal sakti sampai akhir hayatnya. Kini, makam keduanya dipercaya berada di pesarean komplek Dawuhan Banyumas.

Versi kedua mengatakan bahwa sebutan Banyumas berasal dari peristiwa saat warga sedang membangun sebuah pusat pemerintahan. Saat itu, warga mendapati kayu besar yang hanyut di Sungai Serayu. Kayu dari jenis pohon kayu mas itu diketahui berasal dari Desa Karangjambu, Kecamatan Kejobong, Kawedan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Para warga heran dan merasa aneh karena kayu mas itu berhenti tepat di lokasi pembangunan. Adipati Mrapat (pendiri Banyumas) yang melihat kejadian itu tersentuh hatinya, ia pun memerintahkan warga untuk mengambil kayu mas tersebut. Kayu mas tersebut kemudian dijadikan saka guru Balai Si Panji. Karena kayu itu bernama kayu mas yang hanyut terbawa air (banyu), maka pusat pemerintahan yang sedang dibangun itu kemudian diberi nama Banyumas.

Versi lainnya menyebutkan bahwa sebutan nama Banyumas, sebagaimana disebutkan dalam sejarah Banyumas, berasal dari peristiwa berhentinya Adipati Mrapat saat dalam perjalanan pulang dari Wirasaba. Saat itu ia melewati kali (sungai) Rukmi atau yang disebut juga kali Mas. Ketika sampai di pertemuan kali mas dengan sungai yang lain, ia menyuruh para Nayaka Praja dan Prajuritnya untuk berhenti. Di tempat tersebut Adipati Mrapat membuat pesanggrahan yang kemudian diberi nama Banyumas.

Itulah beberapa cerita yang menjelaskan mengenai asal usul nama Banyumas.

Sejarah Kabupaten Banyumas

Merunut sejarahnya, kabupaten Banyumas telah berdiri selama ratusan tahun. Banyumas sebagai suatu wilayah pemerintahan diyakini terbentuk pada abad ke-16, yaitu pada masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang. Sejarah berdirinya Kabupaten Banyumas erat kaitannya dengan tokoh yang bernama Raden Joko Kaiman, penguasa (Bupati) pertama Banyumas yang dikenal dengan julukan Adipati Mrapat.

Menurut silsilahnya, Raden Joko Kaiman adalah putra dari Raden Banyaksosro dengan ibu dari Pasir Luhur. Raden Banyaksosro adalah putra Raden Baribin, seorang pangeran Majapahit yang karena suatu kesalahan beliau menghindar ke Pajajaran dan akhirnya dijodohkan dengan putri Raja Pajajaran, Dyah Ayu Ratu Pamekas. Sedangkan Ibu dari Raden Joko Kaiman, Nyi Banyaksosro adalah putri dari Adipati Banyak Galeh (Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil, Raden Joko Kaiman diasuh oleh Kyai Sambarta yang bergelar ki mranggi dengan Nyai Ngaisah, putri Raden Baribin yang bungsu. Saat dewasa, Raden Joko Kaiman menikah dengan putri Adipati Wargohutomo I.

Menurut Babad Banyumas, wilayah Banyumas sebelumnya termasuk bagian dari wilayah Wirasaba (sekarang terletak di Purbalingga). Menurut cerita, telah terjadi kesalahpahaman yang menimpa penguasa Wirasaba saat itu, Adipati Wargohutomo I (Adipati Wirasaba VI), yang membuatnya terbunuh oleh utusan Sultan Hadiwijaya dari Pajang pada tahun 1578. Peristiwa tersebut terjadi saat Adipati Wirasaba VI dalam perjalanan pulang dari pisowanan ke Pajang. Beliau terbunuh saat berada di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Kabupaten Purworejo.

Untuk menebus kesalahpahaman tersebut, Sultan Hadiwijaya bermaksud memanggil putra Adipati Wirasaba untuk menghadap ke Pajang. Karena tidak ada yang berani, maka Joko Kaiman lah yang merupakan putra menantu Adipati Wirasaba VI berangkat menghadap Sultan Pajang. Tidak dinyana Joko Kaiman justru kemudian dikukuhkan oleh Sultan Pajang sebagai penguasa Wirasaba yang baru menggantikan sang mertua (Adipati Wirasaba VI) yang mati terbunuh. Raden Joko Kaiman pun diwisuda menjadi Adipati Wirasaba ke VII, dengan gelar Adipati Wargohutomo II.

Meski telah diberi kekuasaan yang melimpah, Raden Joko Kaiman adalah seorang satria yang berjiwa besar. Raden Joko Kaiman dengan izin Sultan Pajang membagi bumi Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian. Satu bagian untuknya sedangkan tiga lainnya diberikan kepada ipar-iparnya, dengan rincian:

1. Wilayah Banjar Pertambakan (sekarang Banjarnegara) diberikan kepada Kyai Ngabehi Wirayuda.

2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabehi Wirakusuma.

3. Wilayah Wirasaba (sekarang Purbalingga) diberikan kepada Kyai Ngabeih Wargawijaya.

4. Wilayah Kejawar (sekarang Banyumas) dikuasai Raden Joko Kaiman sendiri.

Karena kebijaksanaannya membagi wilayah Kadipaten menjadi empat bagian termasuk untuk para iparnya, maka Raden Joko Kaiman dijuluki dengan sebutan Adipati Mrapat (yang membagi empat). Di wilayah kekuasaannya di Kejawar, Raden Joko Kaiman (Adipati Mrapat/Wargohutomo II) membabat wilayah hutan dan membangun pusat pemerintahan baru yang kelak diberi nama Kabupaten Banyumas.

Peristiwa Raden Joko Kaiman saat diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII diperkirakan terjadi pada hari Raya Grebeg Besar (Mulud), yaitu tanggal 12 Rabiulawal 990 H, atau bertepatan dengan hari Jumat Kliwon tanggal 6 April 1582 M. Maka berdasarkan pada peristiwa ini, Pemerintah Kabupaten Banyumas menetapkan hari jadi Kabupaten Banyumas pada tanggal 6 April 1582 M. Hari jadi tersebut juga dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 1990.

Ketentuan ini berjalan selama dua setengah dekade, sampai akhirnya pada sekitar tahun 2015 dilakukan pengkajian ulang berdasar bukti lebih otentik yang bersumber dari peninggalan museum kalibening. Sumber yang tersimpan pada juru kunci makam Kalibening menyebutkan bahwa Joko kaiman berangkat ke Pajang pada tahun 1571  di bulan ramadhan. Hal ini tertulis dalam catatan lembaran kayu yang panjangnya hampir 2 meter di koleksi museum kalibening.

Dalam rinciannya, Naskah Kalibening mencatat suatu peristiwa penting berkaitan dengan penyerahan upeti kepada Sultan Pajang pada hari Rabu sore tanggal 27 Ramadhan. Peristiwa penyerahan upeti ini diinterpretasikan dilakukan oleh Raden Joko Kaiman saat menghadap Sultan Pajang. Peristiwa ini juga sekaligus berkaitan dengan "Sang Mertua" (rama), yang berarti bahwa Raden Joko Kaiman diangkat sebagai bupati Wirasaba ke VII menggantikan mertuanya tersebut. Sedangkan angka tahun yang dipakai adalah berdasarkan kesaksian teks yang dikandung oleh Naskah Krandji-Kedhungwuluh dan catatan tradisi pada Makam Adipati Mrapat di Astana Redi Bendungan (Dawuhan).

Catatan tersebut menyatakan bahwa tahun 1571 adalah awal kekuasaan Adipati Mrapat (R. Joko Kaiman), sedangkan tahun 1571 sampai tahun 1582 adalah lamanya periode kekuasaan Adipati Mrapat. Di samping itu, angka tahun 1571 juga sebetulnya pernah terpampang pada Papan Makam dan Batu Grip Makam Adipati Mrapat yang masih ditemui pada tanggal 1 Januari 1984, namun setelah itu makam tersebut direnovasi oleh Bupati Roedjito sehingga menghilangkan data tersebut. Jadi berdasar data ini, diketahui bahwa tahun 1582 bukan merupakan tahun awal, tetapi merupakan tahun akhir kekuasaan Adipati Mrapat.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, maka tanggal 27 Pasa (Ramadhan) tahun Masehi 1571 lebih tepat kiranya ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten Banyumas. Hasil perhitungan bulan Ramadhan pada tahun 1571 Masehi jatuh pada tahun 978 H, maka tanggal 27 Ramadhan 978 H jika dikonversikan dengan tahun Masehi jatuh pada hari Kamis Wage (Rabu sore) tanggal 22 Februari 1571. Jadi, berdasarkan bukti baru tersebut, maka peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas yang sebelumnya bertanggal 6 April 1582 M, dirubah menjadi 22 Februari 1571.

Ketentuan perubahan ini juga diatur berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, yang mencabut Peraturan sebelumnya yakni Perda No 2 Tahun 1990 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas. Demikianlah pembaca sekalian, maka  mulai tahun 2016 hingga seterusnya, peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas yang dipakai adalah berdasar peristiwa pada tanggal 22 Februari tahun 1571, yang berarti ulang tahun Kabupaten Banyumas akan diperingati setiap tanggal 22 Februari. Sekian, semoga bermanfaat.

Kredit

Bagikan