Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api 23 Maret 1946

user
adminoke 05 Mei 2022, 10:00 WIB
untitled

KRSUMSEL.com - Kontak fisik yang dilakukan rakyat Indonesia saat melawan tentara sekutu merupakan sebuah bentuk tanggung jawab dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah berhasil diraih oleh bangsa Indonesia. Ada banyak peristiwa bersejarah di Indonesia yang menceritakan betapa gigihnya para pejuang bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya yaitu peristiwa di Bandung, Jawa Barat pada 23 Maret 1946.

Pada tanggal 12 Oktober 1945, pasukan Sekutu dengan dibonceng NICA memasuki wilayah kota Bandung. Mereka menuntut agar rakyat menyerahkan senjata yang diperoleh dari tentara Jepang. Kemudian pada tanggal 21 November 1945, sekutu mengultimatum bahwa selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945, wilayah Bandung bagian utara harus dikosongkan. Perintah itu ditolak oleh para pemuda Indonesia sehingga insiden dengan pasukan Sekutu tidak dapat dihindari.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dilakukanlah perundingan dengan kesepakatan bahwa Bandung dibagi menjadi dua dengan batas jalan kereta api. Rinciannya sebelah utara jalan kereta api dikuasai sekutu, sedangkan sebelah selatan dikuasai oleh pihak Indonesia. Namun meskipun begitu, pada tanggal 23 Maret 1946, pasukan sekutu kembali mengeluarkan ultimatum agar seluruh Kota Bandung dikosongkan.

Pasukan sekutu juga meminta bantuan pemerintah Rl agar memerintahkan pengosongan Kota Bandung atau mundur ke luar kota sejauh 11 km. Pemerintah RI di Jakarta kemudian memerintahkan Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) agar mengosongkan Kota Bandung. Sebaliknya, dari Markas Besar TRI di Yogyakarta datang instruksi supaya Kota Bandung tetap dipertahankan. Akhirnya, dengan berat hati TRI di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution bersama rakyat Bandung mematuhi perintah dari Jakarta.

Namun sebelum meninggalkan kota Bandung, ultimatum Tentara Sekutu agar TRI meninggalkan Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumi-hangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumi-hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946.

Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Pembakaran ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer.

Asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik di kota Bandung mati. Tentara Inggris mulai melakukan serangan sehingga pertempuran sengit terjadi di beberapa tempat. Pertempuran paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini, Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut.

Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Namun sayang, gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Namun, api masih membubung membakar kota sehingga kota Bandung pun tampak membara. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat juga masih melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung.

Peristiwa pembumihangusan kota Bandung tersebut terjadi pada tanggal 23 Maret 1946 dan kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, sebuah monumen kemudian dibangun pada tahun 1981 di lapangan Tegallega, Bandung untuk mengenang peristiwa perjuangan rakyat Bandung dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu, peristiwa bersejarah ini juga konon mengilhami terciptanya lagu Halo Halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki yang menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang alami saat itu, menunggu untuk merebut kembali kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

Halo, halo Bandung, ibu kota Periangan

 

Halo, halo Bandung, kota kenang-kenangan

 

Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau

 

Sekarang telah menjadi lautan api

 

Mari bung rebut kembali

Sumber : santos

Kredit

Bagikan