Lahirnya 'Orde Baru' yang Membuat Jengkel Presiden Sukarno

user
adminoke 27 Mei 2022, 08:34 WIB
untitled

KRSUMSEL.com - Dimunculkan oleh para mahasiswa pro tentara, istilah Orde Baru sempat tak membuat nyaman Bung Karno.

Lahirnya 'Orde Baru' yang Membuat Jengkel Presiden Sukarno

Saat menjelang detik-detik kejatuhannya, Presiden Sukarno sempat 'dibingungkan' dengan istilah 'orde baru dan orde lama'. Dalam setiap kesempatan ada saja wartawan luar negeri yang menanyakan soal itu kepadanya. Hingga pada suatu hari dia pernah mengeluhkan soal tersebut kepada salah seorang sahabatnya Muriel Stuart Walker alias Ktut Tantri di Istana Bogor.

Ktut yang datang bersama Dewi A. Rais Abin, disambut hangat oleh Bung Karno. Terjadilah perbincangan kecil yang sempat direkam oleh Dewi dalam bukunya, Hidajat: Father, Friend and A Gentleman.

"Ktut, nowadays we have Old Order and New Order! (Ktut, sekarang ini kita memiliki dua masa: Orde Lama dan Orde Baru!)" ujar Bung Karno secara tiba-tiba.

"I don’t mind Bung, whatever there is Old Order or New Order as long as there is order (Mau Orde Lama atau Orde Baru, selama ada tata tertib dan ketentraman, itu tidak masalah Bung)" jawab Ktut.

Lahirnya 'Orde Baru' yang Membuat Jengkel Presiden Sukarno

Pencetus Awal Istilah Orde Baru

Sesungguhnya istilah Orde Baru mulai dimunculkan dalam Musayawarah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 17-21 Juli 1966. Para mahasiswa pro tentara itu menyebut sebuah istilah yang mengacu kepada suatu sistem atau cara berpikir, bersikap dan bertindak yang selaras dengan aspirasi perjuangan dan perkembangan masyarakat serta nilai-nilai peradaban manusia. Sistem itu bernama Orde Baru.

Orde Baru adalah lawan dari Orde Lama. Itu nama sebuah sistem atau cara berpikir, bersikap dan bertindak yang tidak sesuai dengan aspirasi perjuangan dan perkembangan masyarakat serta nilai peradaban manusia, kata para aktivis KAMI.

Kurang lebih satu bulan kemudian, Seminar Angkatan Darat (AD) di Bandung mengangkat isu itu sebagai tema. Lewat pidato Jenderal Soeharto sendiri, pihak tentara mulai menghembuskan istilah itu sebagai orde yang harus didukung penuh.

Menurut jurnalis senior Jopie Lasut, awalnya istilah 'Orde Baru' sendiri terlontar dari mulut Jenderal A.H. Nasution. Sebutan itu dimunculkan guna membedakan dengan Orde Lama yang merupakan orde pemerintahan Sukarno.

"Orde Baru terbentuk dengan dukungan generasi muda dan sebagian tentara yang tidak mau melanjutkan Demokrasi Terpimpin…" ungkap Jopie Lasut dalam bukunya, Kesaksian Seorang Jurnalis Anti Orde Baru: Malari melawan Soeharto dan Barisan Jenderal Orde Baru.

Jenderal Nasution sendiri tak pernah mengakui secara tegas bahwa istilah Orde Baru adalah ciptaannya. Dia malah menyebut, istilah Orde Baru dan Orda Lama mulai populer dalam sidang-sidang yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada awal 1967.

"Orde lama sebagai yang menyelewengkan UUD dan Orde Baru sebagai pengoreksi," ungkap Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 7: Masa Konsolidasi Orde Baru.

Sama-Sama Otoriter

Layaknya 'pemain baru', di awal kekuasannya Orde Baru berjanji akan membangun suatu ekonomi rakyat dan meningkatkan taraf hidup, kesehatan, pendidikan serta kesejahteraan. Nyatanya satu dasa warsa kemudian, janji itu memang terwujud namun sonder peningkatan taraf pendidikan dan kesejahteraan.

Sebaliknya dari sisi kebebasan berekspresi (terutama ekspresi politik), menurut Jopie Lasut, pemerintahan Orde Baru tidak lebih baik dibandingkan pemerintahan Orde Lama. Bukan rahasia lagi jika Jenderal Soeharto dikenal sebagai penguasa yang tak memiliki toleransi terhadap para pengeritiknya.

"Dalam waktu beberapa tahun, elite Orde Baru yang intinya terdiri atas faksi militer yang didukung oleh sekelompok kecil sipil terbukti telah banyak mengasingkan sekutu aslinya," ungkap Jopie.

Pendapat Jopie berkelindan dengan pengamat politik dan militer Indonesia Ulf Sundhaussen. Dalam bukunya, Politik Militer Indonesia 1945—1967: Menuju Dwifungsi ABRI, Ulf menilai sesungguhnya Orde Baru dan Orde Lama memiliki watak otoriter yang sama. Bedanya, yang satu memakai strategi yang “berapi-api”, yang satu lagi menggunakan cara yang “lebih lunak dan berhati-hati”.

Merdeka.com

Kredit

Bagikan