Sejarah Isra Mi'raj, Kisah Perjalanan Nabi Muhammad ini Perintah Salat Diperoleh

user
adminoke 10 Juni 2022, 09:07 WIB
untitled

KRSUMSEL.com - Setiap tanggal 27 Rajab, ada sebuah momentum penting yang patut diingat bagi umat Muslim. Momentum yang terjadi di tahun ke delapan kenabian ini, mengenai kisah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan ini merupakan perjalanan agung karena sang nabi terakhir bertemu dengan Allah SWT di langit ke tujuh. Lewat perjalanan ini pula, sang nabi, yang di temani malaikat Jibril, mendapatkan perintah untuk melaksanakan salat, yang akhirnya mendapat kesepakatan sebanyak lima waktu. Perintah itulah yang sampai saat ini menjadi sebuah ibadah wajib bagi umat Islam.

Di balik peristiwa luar biasa ini, ada kisah yang nggak kalah seru untuk disimak. Mulai dari perintah salat yang sebenarnya 50 waktu dalam sehari sampai makhluk buraq yang menjadi kendaraan nabi.

berikut kisah perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

Kisah Perjalanan Agung Isra Mi'raj

Dok. CoventryTelegraph

Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai kisah Isra Mi'raj, ada baiknya kamu mengerti dahulu apa makna sesungguhnya dari Isra Mi'raj. Ya, Isra Mi'raj terdiri dari dua kata yang saling berbeda artinya. Kata Isra sendiri berarti perjalanan di malam hari, sedangkan Mi'raj berarti naik atau diangkat ke Sidratul Muntaha. Sehingga, Isra Mi'raj merupakan sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di malam hari menuju Sidratul Muntaha.

Perjalanan ini sebenarnya merupakan sebuah “hadiah” yang diberikan Allah SWT terhadap nabi. Hadiah tersebut diberikan Allah sebagai bentuk hiburan, lantaran Nabi Muhammad diuji dengan kehilanggan orang yang dicintainya. Nggak cuma satu, Nabi Muhammad kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi, yaitu sang istri yang dikasihinya, Khadijah, dan juga sang paman, Abu Thalib, yang menjadi garda terdepannya.

Sejarah Isra Mi'raj

Menurut sejarah, peristiwa satu malam ini terjadi di tahun 621. Dari berbagai hadis, Isra adalah bagian dari perjalanan nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yerusalem, yang dimulai ketika Muhammad SAW berada di Masjid Agung, dan Malaikat Jibril datang kepadanya dan membawa buraq.

Buraq yang sejenis hewan berbulu putih dan memiliki kecepatan di atas kecepatan cahaya, membawa Nabi Muhammad ke Masjid al-Aqsa di Yerusalem. Nabi Muhammad SAW kemudian singgah ke Madinah dan Gunung Sinai untuk sembahyang, di mana atas perintah Tuhan, dia diuji oleh Jibril.

Diceritakan oleh Anas ibn Malik bahwa Muhammad SAW berkata: "Jibril membawakanku bejana anggur, bejana air dan bejana susu, dan aku memilih susu. Jibrail berkata: 'Kamu telah memilih Fitrah ( insting alami). '"

Di bagian kedua perjalanan, yaitu Mi'raj, Nabi Muhammad SAW bersama dengan Jibril melesat dengan cepat menuju langit ke-7, di mana beliau berkeliling tujuh tahap surga, dan berbicara dengan nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim As, Musa As, Yahya As, dan Isa As. Muhammad SAW kemudian dibawa ke Sidrat al-Muntaha, yaitu pohon suci di surga ke-7 yang tidak diizinkan untuk dilewati oleh Jibril.

Menurut sejarah Islam, Tuhan memerintahkan Muhammad bahwa muslim harus salat lima puluh kali sehari; akan tetapi, Musa memberitahu Muhammad bahwa sangat sulit bagi umatnya dan mendesak Muhammad untuk meminta pengurangan, hingga akhirnya waktu salat dikurangi menjadi lima kali sehari.

Ada beberapa kisah dan penafsiran berbeda tentang apa yang terjadi selama Miʿraj, seperti versi Ibnu Abbas, Interpretasi Sufi, hingga observasi Muslim modern. Akan tetapi, sebagian besar narasi memiliki elemen yang sama: Muhammad SAW naik ke surga bersama malaikat Jibril dan bertemu dengan nabi yang berbeda, di masing-masing tingkatan surga.

Namun yang perlu dipahami, Isra Mi'raj adalah di antara tanda-tanda besar Allah SWT, yang menunjukkan kebenaran Rasul-Nya, Muhammad. Bagi mereka yang memilih untuk merayakan Isra Mi'raj, bisa ditandai dengan berbagai cara. Beberapa Muslim berkumpul di masjid setempat untuk salat bersama, sementara yang lain merayakan di rumah dengan menceritakan kisah perjalanan Muhammad ke anak-anak dan membaca doa di malam hari. Setelah salat, makanan pun disajikan.

SUMBER

Kredit

Bagikan