Sejarah Tahun Kelahiran Nabi Muhammad SAW Dikenal dengan Nama Tahun Gajah

user
adminoke 08 Juli 2022, 08:16 WIB
untitled

KRSUMSEL.COM - Tahun kelahiran nabi Muhammad SAW bertepatan dengan 12 Rabiul Awal atau 571 Masehi sekitar 1449 tahun lalu. Biasanya, umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah dengan nama Maulid Nabi.

Dalam khazanah Islam, tahun lahir Rasulullah itu juga dikenal dengan istilah Tahun Gajah. Momen ini menjadi tanda ketika raja vasal Ethiopia di Yaman, Abrahah berencana akan meratakan bangunan Ka'bah.

Pasukan raja Abrahah ini bertolak menuju Makkah dengan menunggangi gajah seperti diceritakan dalam Alquran surah Al-Fiil. Berikut sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW dilansir dari berbagai sumber, Rabu (29/6/2022):

Tahun Kelahiran Rasulullah SAW

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa Nabi Muhamaad SAW lahir pada Tahun Gajah terpatnya pada 12 Rabiul Awal atau 571 Masehi, sekitar 1449 tahun lalu. Waktu kelahiran Rasulullah bertepatan dengan penyerangan ka'bah.

Pada saat itu seorang raja vasal Ethiopia di Yaman, yakni Abrahah berencana akan meratakan bangunan ka'bah. Ia pun datang ke makkah bersama pasukannya dengan menunggangi gajah. Kemudian, atas izin Allah SWT pasukan Abrahah pun kemudian dihujani batu yang dilempar burung ababil dalam perjalanannya.

Di 'Tahun Gajah' itulah Rasulullah SAW lahir dari rahim seorang wanita bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhra. Selepas Aminah melahirkan, bayi yang baru lahir itu dibawa ke ka'bah, dan diberi nama Muhammad.

Dalam bahasa Arab, nama 'Muhammad'd diambil dari kata sifat yang berarti 'orang yang terus-menerus terpuji'. Harapan Abdul Muthalib dengan menyematkan nama tersebut pun terkabul.

Sebab, Nabi Muhammad SAW menjadi sosok yang demikian berpengaruh, berbudi pekerti luhur hingga dijuluki Al-Amin (orang terpercaya), dan memperoleh tempat khusus di sejarah Islam.

Sejarah Kelahiran Rasulullah SAW

Dilansir dari NU Online, dikisahkan bahwa pada malam kelahiran Nabi Muhammad, istana kisra di Persia berguncang hingga 14 ruangannya roboh. Bahkan, api kaum Zoroaster yang disembah penganut Majusi pun padam. Padahal, api tersebut telah menyala selama 1000 tahun.

Sehingga, kelahiran Nabi Muhammad SAW ini pun diyakini telah memadamkan api penganut Majusi, dan menandai kemunculan penyampai pesan "ketuhanan" di tengah impitan imperium Romawi dan Persia.

Kelahiran Nabi Muhammad juga diyakini membawa berkah bagi orang-orang di sekitarnya. Halimah As-Sa'diyah, diriwayatkan terus menerima keberuntungan, sejak pertama kali ia mengambil bayi Muhammad bin Abdullah sebagai bayi susuannya.

Peristiwa Sebelum Kelahiran Rasulullah SAW

Sejumlah Peristiwa luar biasa terjadi menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dilansir dari laman moeslimchoice, disebutkan beberapa peristiwa luar biasa menjelang kelahiran Rasulullah, seperti:

1. Pada malam tanggal pertama Rabi’ul Awwal, Aminah mendapatkan kedamaian dan ketenteraman dari Allah, sehingga merasa begitu tenang dan damai.

2. Malam tanggal kedua, Aminah menerima seruan berita dari Allah bahwa ia akan segera mendapatkan anugerah yang agung dan mulia

3. Malam ketiga, Aminah kembali menerima pesan dari Allah bahwa ia sebentar lagi akan melahirkan nabi paling agung dan mulia, Nabi Muhammad SAW

4. Malam keempat, suara dzikir malaikat terdengar jelas hingga ke telinga Aminah

5. Malam kelima, Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim. Dalam mimpi itu, Ibrahim meminta Aminah untuk bergembira karena akan melahirkan nabi pemilik kemuliaan. 'Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,' kata Nabi Ibrahim kepada Aminah

6. Malam keenam, Aminah melihat cahaya memenuhi sudut-sudut alam semesta, hingga tidak ada kegelapan

7. Pada malam ketujuh, Aminah melihat malaikat berbondong-bondong mendatangi rumahnya. Mereka menyampaikan kabar gembira bahwa waktu kelahiran Rasulullah semakin dekat

8. Malam kedelapan, Aminah mendengar berita yang menyerukan kepada seluruh penghuni alam, untuk berbagi karena kelahiran Rasulullah semakin dekat

9. Di malam kesembilan, Aminah merasakan ketenangan dan kedamaian, sehingga tidak merasa sedih sedikit pun

10. Malam kesepuluh, Aminah melihat tanah Mina dan Khaif bergembira menyambut kelahiran Muhammad

11. Malam ke-11, Aminah melihat seluruh penghuni langit begitu senang menyambut detik-detik kelahiran sang Rasul

12. Malam-12, Aminah yang ada di rumah melihat langit begitu cerah. Awalnya ia menangis tersedu-sedu karena sendirian di rumah. Saat itu, Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, sedang bermunajat di Ka’bah. Namun saat proses persalinan tiba, Allah mengutus empat wanita utama untuk menemani Aminah selama proses melahirkan. Mereka adalah Hawa istri Nabi Adam, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa.

Peringatan Maulid Nabi

Momen kelahiran Rasulullah SAW ini sampai saat ini diperingati oleh umat Islam dan dikenal sebagai Maulid Nabi. Dikutip dari laman MUI, tercatat bahwa Raja Al-Mudhaffar Abu Sa'id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin menjadi orang pertama yang memperingati Maulid Nabi SAW.

Sejak saat itulah peringatan Maulid Nabi mulai dilakukan oleh umat Islam. Perayaan Maulid Nabi dinilai sebagai momen untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah SAW.

Sementara itu, peringatan Maulid Nabi di Indonesia pertama kalinya dibawa oleh Wali Songo sekitar tahun 1404 masehi. Perayaan tersebut dilakukan demi menarik hati masyarakat untuk memeluk agama Islam.

Sebab itulah, perayaan Maulid Nabi juga dikenal dengan nama perayaan Syahadatin. Nama lainnya yang dikenal masyarakat Indonesia adalah Gerebeg Mulud dengan menggelar upacara nasi gunungan.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Rangkaian kisah Maulid Nabi diakhiri dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Hari-Hari terakhir Rasulullah ditandai dengan turunnya surat Al Maidah ayat 3:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

SUMBER : MERDEKA.COM

Kredit

Bagikan