Kilang Minyak Sawit Baru Terungkap Memasok Minyak Sawit dari Perusahaan Nakal

oleh -995 pembaca
"An aerial view of remaining Tripa, Peat Forest. Pristine rainforest in Indonesia is being felled, burned, drained and cleared into palm oil plantations at a shocking pace. The critically endangered Sumatran orangutan is losing habitat fast. The three remaining coastal peat swamp forests of Aceh province - Tripa, Kluet and Singkil - are among the most precious natural habitats in the world. Home to 30 per cent of the world's last remaining great apes, these forests have the highest concentration of Sumatran orangutans anywhere. They also form vital corridors linking the Indian Ocean with the highland rainforests of the Leuser ecosystem and the Gunung Leuser National Park. A critical carbon storehouse for the planet, Tripa has already been 90 per cent cleared for palm-oil plantations. Irrigation canals are depriving the forest of the very life that supports it, as the water table drops. Local communities are suffering too, as vital wells dry up. Tragically, more than 80 per cent of Tripa's original orangutan population has been decimated by forest hunting, poaching, human-wildlife conflict, illegal logging, and fires as a direct result of opening up large tracts of forest. Aceh Province, Sumatra, 19th November 2013. Photo: Paul Hilton"

Aceh, KRsumsel.com Laporan Leuser Watch terbaru dari Rainforest Action Network (RAN) mengungkap keterlibatan PT. Rezeki Fajar Andalan (PT. RFA) sebagai kilang minyak sawit baru yang memasok minyak sawit bermasalah dari PT. Surya Panen Subur (SPS II) —perusahaan nakal yang terkenal karena membakar dan menghancurkan “Ibukota Orangutan Dunia” di Kawasan Ekosistem Leuser.

 

 

Hasil investigasi menemukan truk pengangkut minyak sawit dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik SPS II Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya memasok minyak sawit ke PT. RFA yang berada di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara pada April 2021, selain itu ditemukan juga bukti pengiriman minyak sawit mentah dari PT. SPS II kepada PT. RFA pada bulan yang sama, padahal RAN selama bertahun-tahun telah mendokumentasikan PT. SPS II sebagai perusahaan nakal yang dikeluarkan dari rantai suplai minyak sawit dunia karena terus terlibat aktivitas deforestasi dan konflik lahan, bahkan perusahaan ini pernah dibawa ke pengadilan dan didenda karena terbukti melanggar hukum membakar hutan lahan gambut Tripa yang terletak di pantai barat Aceh.

 

 

Merek besar seperti PepsiCo dan Nestlé menyikapi reputasi buruk PT. SPS II dengan memberlakukan kebijakan ‘No Buy’ (Tidak Membeli) dari perusahaan nakal ini. Bahkan perusahaan pedagang minyak sawit raksasa seperti Golden Agri Resources, Wilmar dan Musim Mas sudah memberlakukan larangan untuk memasok dari PT. SPS II, meski hingga saat ini tidak ada satu pun dari perusahaan pemasok minyak sawit tersebut yang mampu membuktikan bahwa pelarangan tersebut telah ditegakkan sepenuhnya.

 

 

“PT. Rezeki Fajar Andalan kini menjadi salah satu perusahaan minyak sawit bermasalah yang patut disorot di Indonesia karena memasok minyak sawit dari PT. SPS II —perusahaan yang telah terbukti melanggar hukum Indonesia dan kebijakan perusahaan manufaktur barang konsumsi di seluruh dunia.” ungkap Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan RAN.

 

 

“Sedangkan PT. SPS II akan tetap menjadi perusahaan paling kontroversial yang tidak patuh pada aturan hukum di Indonesia hingga mau memenuhi kewajibannya membayar denda atas kebakaran yang terjadi di lahan gambut Tripa dan ikut terlibat dengan itikad baik dalam proses resolusi konflik yang transparan, kredibel dan independen untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat lokal yang terkena dampak operasionalnya”, Gemma menambahkan.

 

 

Laporan investigasi terbaru ini menunjukkan bahwa merek-merek besar mungkin sekali lagi mendapatkan pasokan dari perusahaan minyak sawit nakal seperti SPS II melalui pabrik minyak sawit baru yang terlibat dalam rantai pasokan minyak sawit di Sumatera. Ini jadi hal yang mendesak bagi merek-merek besar dunia seperti, Ferrero, Procter & Gamble, Mondelēz, PepsiCo, Mars, Nestlé dan Unilever untuk menempatkan PT. Rezeki Fajar Andalan pada daftar ‘Tidak Membeli’ dan menuntut agar perusahaan menghentikan suplai dari PT. SPS II serta mendorong perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rantai pasoknya untuk mengadopsi Kebijakan Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut dan Nol Eksploitasi (NDPE). Jika perusahaan-perusahaan ini gagal melakukannya, perusahaan tersebut harus diblokir secara permanen dari rantai pasok minyak sawit ke merek-merek besar dunia dan pasar global.(***)