Kasat Reskrim Polrestabes Palembang Ringkus 70 Pelaku Kejahatan 3C

oleh -8.181 pembaca

Palembang, KRSumsel.com – Tak semuda yang dibayangkan menjadi seorang Kasat Reskrim, apalagi sebagai panglima perang di Polrestabes Palembang. Terus menumpas para pelaku kejahatan 3C (curas, curat dan curanmor), di kota metropolitan seperti kota besar Palembang ini merupakan amanah yang harus diembannya.

 

Yang harus membuat kota pempek aman dan kondusif, serta membuat masyarakat Palembang Nyaman, hal ini membuat Pria Kelahiran, Bogor, 14 Oktober 1977, bernama Tri Wahyudi SH, duduk menjadi Kasat Reskrim Polrestabes, Palembang. Berpangkat Kompol Tri merupakan lulusan Perwira Polri Sumber Sarjana (PPSS) tahun 2003.

 

Ketika, awak media Polrestabes, masuk kedalam kesehariannya , Bang Tri pun (sapaan akrabnya) menyabut dengan senyuman dan mau bercerita tentang perjalanan karir, hingga ia bisa duduk di kursi panas menjadi Kasat Reskrim Polrestabes Palembang.

 

” Bang mengawali cerita, Abang bercita-cita menjadi polisi ini, apakah cita-cita dari kecil ?

 

-Ya memang cita-cita menjadi polisi merupakan cita-cita saya dari kecil. Saya juga pengen nyenengi orang tua saya. Bapak saya polisi, saya juga ingin jadi polisi sebagai penerus. Oleh itu saya bulatkan tekad menjadi polisi. Lulus pendidikan SMA N 1 Purwokerto tahun 1996, saya ikut tes Akpol (Akademi Polisi), angkatan 99 kalau lulus kemarin.

Saat itu badan saya agak gemuk, tetapi waktu itu saya tetap berusaha keras melakukan persiapan fisik.

 

Namun, setelah tes demi tes saya lalui sampai terakhir di kota Magelang, saya pun sempat kecewa karena saya menderita penyakit tipes dan tumbang (gugur), lantaran seminggu sakit. Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah di universitas Pakuan, Bogor. Ambil Fakultas Hukum. Karena sempat kecewa tidak lulus Akpol, waktu semester 1, 2 dan tiga kuliah saya sempat males-malesnya.

 

Waktu pun berlalu, Alhamdulilah saya lulus kuliah tahun 2002, umur saat itu 26 tahun, dan mikir mau jadi apa. Saat itu orang tua saya tidak ada lagi tawaran kepada untuk masuk polisi. Namun karena tekad saya sudah bulat, waktu itu saya kembali ikut tes polisi PPSS. Dan saya sempat bertanya kepada bapak saya ada tidak pak, jalur lewat kuliah masuk polisi, bapak pun bilang ada , ditanya kamu serius mau ikut polisi. Hanya sekali kesempatan lagi tes polisi

 

Saat tes PPSS Tahun 2002, seluruh indonesia waktu itu ada 4 Polda yang diterima lulus sarjana hukum, dan Akhirnya saya tes dari Palembang. Jadi ada pesan dari bapak saya, jika anak bapak mendapatkan ranking 1, Pasti lulus. Alhamdulilah saya pun ranking 1 dari 40 orang. Dan berangkat ke Semarang, pendidikan selama 1 tahun, saat itu waktu pendidikan PPSS masih bergabungan dengan Akpol 2003.

 

” Bang menjadi Kasat Reskrim suatu kepercayaan dan amanah yang diberikan atas, baik Kapolda Sumsel maupun Kapolrestabes, Palembang, apa sih perasaan saat itu ?.

 

–Jujur awalnya saya kaget luar biasa, mendapatkan jabatan ini. Apalagi tipenya Polrestabes ini sudah naik, yang menjadi kasat Reskrim harus berpangkat AKBP. Saya berpikir mungkin saya diberikan jabatan ini dipandang pimpinan saya bisa dipercaya dan saya mampu. Ya saya jalani dengan kerja keras, bismillah amanah ini saya terima. Saya berupaya menjadi yang terbaik.

 

Menjadi Kasat Reskrim Polrestabes Palembang sendiri bagi saya seperti balik ke rumah sendiri karena asalnya saya jadi polisi dari Palembang. Dan anggota disini semua mantan anggota saya dulu, mereka bekerja maksimal, terus membuat prestasi dalam bekerja, kita sama-sama kerja keras, jangan sampai ada pelanggar.

 

” Bang menjadi Kasat Reskrim tentunya memiliki tantang yang luar biasa, apa sih yang Abang lakukan untuk menumpas pelaku kejahatan.

 

— Ya benar tantang yang luar biasa. Namun saya tentunya melakukan pemetaan terlebih dahulu di tempat titik titik rawan tindak kejahatan. Namun sebenarnya pemetaan sudah saya lakukan waktu saya pernah menjadi Kanit res di Polresta, tempat kejadian di Palembang ini sudah rata, dimana pun bisa terjadi tindak pidana.

 

Namun saya menyiasatinya menguatkan petugas opsnal di lapangan. Nah diketahui tim Opsnal reskrim ini sendiri ada 4 tim, Pidum, ranmor, Tekab 134 dan Resmob. Petugas opsnal ini betul-betul kerja di luar (di lapangan-red), mereka bener-bener mencari para pelaku tindak kejahatan, seperti 3C yang terjadi di kota Palembang. Mereka saya kasih kepercayaan yang tentunya harus di jaga, sama seperti saya menjaga kepercayaan Kapolda Sumsel dan Kapolrestabes, Palembang.

 

Mereka tidak elek-elekan, dan alhadulilah kerja di lapang secara maksimal. Dan terbukti setelah saya duduk disini tiga bulan anggota berhasil mengungkap kasus dan pelaku kejahatan hampir 70 orang. Mulai dari curat, curat, curanmor, perlindungan anak, Penggelapan uang umroh, dan lain lainnya. Dan alhamdulilah laporan yang masuk satu persatu bisa diselesaikan apalagi yang viral di medsos.

 

” Menurut Abang sendiri kota Palembang Seperti apa, apakah Palembang sudah seperti kota Metropolitan

 

— Benar kota Palembang ini sudah beda-beda tipis lah dengan ibu kota, tingkat kejahatannya luar biasa tinggi, setiap hari itu pasti ada tindak kejahatan

 

Saya selaku kasat Reskrim, memang harus menindaklanjuti hal tersebut secara prepesif dan prepentif . Nah sini kita lakukan patroli dan hunting harus rutin yang kita main. Kami penegak hukum ya jika ada tindakan kami juga harus bisa main dilapangan, minimal dari cari pencegahan

 

Oleh itulah, dalam waktu 1 bulan seperti 1 bulam kemarin, terakhir kita menggelar ungkap kasus ada 45 pelaku kejahatan 3C berhasil diringkus beserta barang bukti.

 

” Abangkan merupakan Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, adakah yang Abang selalu terapkan ke anggota saat melaksanakan tugas di Lapangan ?

 

— Yang jelas pada saat melakukan penindakan dan penangkapan, tugas utama SOP ada perkapnya. Selain itu saya selalu berpesan kepada anggota, tidak boleh melakukan penangkapan sendiri untuk keamanan minimal 1 tim, karena untuk saling menjaga.

 

Lalu pahami situasi di lapangan tempat yang mau kita tuju, seperti dari masyarakat, sosialoginya , jika kita tidak memahami itu kita mengangap semua aman, tahu tahu terjadi yang kita tidak inginkan. Kalu kita tidak bisa memahami itu kita ke blablasan.

Saat kita tahu lokasi jelas kita aman.

 

 

” Tentunya pasti ada jargon yang Abang pegang. Apa jargon yang abang selalu pegang ? Semboyan lah.

 

–Ya Reserse ini indentik dengan busur dan panah. Seperti contoh nih, Jargon Kapolrestabes, Palembang ” jagoan Palembang jago Palembang,”. Kalau saya ” Panah melesat tepat sasaran “. Karena melesat itu bisa kemana saja, saya ibaratkan anggota opsnal ini anak panah bukan busurnya, kalau panahnya melesat kemana aja bisa. Tepat sasaran. Artinya setiap anggota reserse kalu keluar dari kantor, pertama mindik harus lengkap, yang tuju sudah ada, tidak sembarangan melesat dan bisa melekat dimana pun.

 

” Bagaimana Abang membagi waktu dengan keluarga, Kan sibuk.

 

-Alhamdulilah istri dan anak sudah tahu, jiwa Reskrim, intinya keluarga, istri dan anak harus memberikan kepercayaan. Seperti sekarang saya menjadi Kasat Reskrim pagi, ke kantor pukul 08.00, pukul 16.00, sore pulang, pukul 20.00 sudah ada di kantor kembali, apalagi Minggu saya tetap bekerja.

 

Bagi saya bertemu istri dan anak tiga jam saja sudah memberikan perhatian khusus terhadap keluarga, Meluangkan waktu dengan keluarga paling jalan ke mall makan, usai makan di luar antar istri dan anak pulang, saya pun pun kembali ke kantor lagi.

 

” Terakhir nih bang, apa sih yang akan belum bisa wujudkan ?

 

– awalnya jadi Kasat Reskrim pun penuh dengan drama, Saya dipercaya oleh pimpinan luar biasa. Tiga hari sebelum TR keluar orang tua saya meninggal, ini harus menjadi kebanggannya, pasti menjadi kasat Reskrim membuat bapak saya bangga, kata Bapak anak saya bisa jadi kasat Reskrim, Polrestabes, Palembang.

 

Namun, TR ini keluar pas tiga hari bapak saya meninggal dunia, jadi belum bisa membanggakan Bapak. Namun mudah-mudahan beliau melihat saya, karena setiap hari saja orang tua sering mengingat saya sering ditelepon, untuk tetap hati-hati saat kerja. Terakhir bagi saya tinggal pengabdian sebaik baiknya untuk bekerja maksimal, Amien” tutupnya.

 

Adapun Biodata :

 

 

Nama : Kompol Tri Wahyudi, SH

Lahir : Bogor 14 Oktober 1977.

Lulusan : Perwira Polri Sumber Sarjana (PPSS) 2003

Istri : Rosse Indah nurmala

Anak ketiga pasangan : Kombes pol (purn) Tan Malaka Bastari dan Ibu R Djuwita Ningsih Djoyo Puspito.

 

Sekolah :

–SMAN 1, Purwokerto 1996

–Universitas Pakuan Bogor 2002.

 

Pernah Menjabat

-Lulus PPSS 2003, Pama Polda Sumsel

-Spk Polresta 2004.

-Kanit Res Polsek IB I, Palembang 2004-2005.

-Kanit Res Polsek IT I, Palembang 2007.

-Kanit Res Polsek SU I, Palembang 2007-2008.

-Kasubag Binopw Polresta 2008.

-Panit Direktorat Kriminal Polda Unit Tipiter 2009.

-Kasat Reskrim Polres Ogan Ilir 2009-2010.

-Kapolsek IT I, Palembang 2011.

-Kasat Narkoba Polres Muara Enim 2012.

-Kasat Reskrim Polres Muara Enim 2012.

– Berangkat sekolah Sespima 2013.

-Panit Tipikor Dirkrimsus Polda Sumsel 2013-2014

-Kabagops Polres Prabumuli 2014.

-Kanit 1 Subdit 4 tipidter Polda Sumsel 2015-2017.

-Waka Polres Pagar Alam 2018.

-Waka Polres Muara Enim 2019.

– Kanit 4 subdit 4 tipidter Polda Sumsel 2020

-Kanit 2 Subdit 4 cagarbudaya Polda Sumsel 2020

-Kanit 4 Subdit 4, Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumsel 2021.

-Kasat Reskrim Polrestabes, Palembang, sekarang.(Kiki)